“Injil” Barnabas

Apakah Injil Barnabas itu dan bagaimana sejarahnya sehingga menjadi ada?
Pada tahun 1709, John Toland di Amsterdam menerima dari Cremer, kanzelir Raja Prusia, sebuah naskah berjudul ‘Injil Barnabas’ dalam bahasa Itali, naskah mana sampai saat ini masih disimpan di perpustakaan di Wina. Pada tahun 1718 ‘Injil Barnabas’ mulai disebut dalam karangan John Toland yang berjudul ‘Nazarenus or Jewish, Gentile and Mahometan Christianity’.

Kitab ini mulai menghebohkan ketika diterbitkan terjemahannya ke dalam bahasa Inggeris oleh Lonsdale dan Laura Rag dengan diberi judul ‘The Gospel of Barnabas’ (Oxford, 1907). Pada tahun 1908 kitab ini diterjemahkan oleh Khalil Saada ke dalam bahasa Arab, dan pada akhirnya diperkenalkan ke Indonesia oleh Ahmad Shalaby. Beberapa terjemahan dalam bahasa Indonesia ditulis antara lain oleh J. Bachtiar Affandie (Jasana, 1969), Husein Abubakar & Abubakar Basjmeleh (Pelita, 1970, diterjemahkan dari bahasa Arab), dan Rahnip M. (Bina Ilmu, 1980).

Apakah benar bahwa Injil Bernabas sebuah ‘Injil’ dan ditulis ‘Barnabas’ seorang rekan kerja rasul Paulus? Masalah ini sering dipersoalkan orang sehingga ada baiknya diangkat sebagai bahan diskusi.

Apakah ‘INJIL’ itu dan siapakah ‘BARNABAS’ itu ?

Kata ‘Injil’ berasal dari kata ‘evangelion’ (kabar baik) atau tepatnya ‘kabar baik perihal Yesus.’ Istilah ini digunakan untuk menyebut ke-empat kitab awal dalam Alkitab Perjanjian Baru (Injil Kanonik : Matius, Markus, Lukas & Yohanes). Disebut demikian karena ke-empatnya menceritakan ‘Riwayat Hidup Yesus’, khususnya ‘ke-tiga kitab pertama (Matius, Markus & Lukas) menyorot kehidupan itu dari sudut pandangan yang sama karena itu disebut ‘Injil Sinoptis’ sedangkan kitab Yohanes melihatnya dari sudut berbeda yaitu sudut ke’Allah’an Yesus.

Memang dalam Alkitab ada seorang bernama Barnabas (anak penghiburan) yang merupakan gelar dari Yusuf seorang Lewi dari Siprus (Kisah 4:36), rekan kerja Paulus (Kisah 9:27), dan bekerja bersama Paulus di Anthiokia (Kisah 11:22-26). Ia menemani Paulus dalam perjalanan pertama (Kisah 13,14) dan menghadiri sidang di Yerusalem (Kisah 15). Barnabas berpisah dengan Paulus karena persoalan Markus (Kisah 15:36-41), namun dalam surat-suratnya, Paulus menunjuk Barnabas sebagai seorang rekan kerja (1.Korintus 9:6/Galatia 2:1,9,13/Kolose 4:10).

Memang ada kitab ‘Kisah Barnabas’ yang merupakan kitab Apokrifa yang didasarkan kitab ‘Kisah Para Rasul’ dan menceritakan dengan lebih jelas perjalanan Barnabas dan Paulus, dan pertentangan soal Markus. Kitab ini memberi kesan ditulis oleh Markus, tetapi menurut penelitian diketahui bahwa kitab ini ditulis sekitar abad-II-V. Ada juga ‘Surat Barnabas’ yang mempersoalkan apakah Perjanjian Lama itu untuk orang Yahudi atau juga untuk orang Kristen dan juga berisi beberapa pengajaran moral. Kitab ini tidak diakui sah, dan diperkirakan ditulis seorang pemimpin gereja sesudah ditulisnya kitab terakhir dalam Alkitab (abad-II).

APAKAH INJIL BARNABAS ITU?

Yang disebut Injil Barnabas (IB) adalah kitab yang berisi 222 Bab yang isinya kira-kira sama banyaknya dengan gabungan ke-empat Injil ditambah dongeng tradisi Yahudi, Kristen dan Islam, yang disatukan dengan cerita-cerita ke-empat Injil kanonik. Jadi IB merupakan usaha untuk menyelaraskan ke-empat Injil menjadi satu Injil yang dibumbui dengan tradisi ketiga agama di atas.

Sekalipun disebut sebagai ‘Injil’ kenyataannya isinya banyak berbeda dengan ke-empat Injil kanonik, seperti misalnya dapat dijumpai dibanyak bagian kitab ini. Dalam Bab-82 disebut bahwa ‘Tahun Jobel’ dirayakan setiap 100 tahun, padahal dalam Perjanjian Lama (Imamat 25:8-55;27:16-25) disebut bahwa tahun Jobel lamanya 50 tahun. Ini menunjukkan bahwa kitab IB baru ditulis setelah tahun 1300 karena pada tahun itu Paus Bonifacius VII mendekritkan perubahan tahun Jobel menjadi 100 tahun. Memang Abubakar/Basjmeleh dalam terjemahannya mengemukakan bahwa mungkin hal itu terjadi karena tidak jelasnya perbedaan antara angka L (50) dan C (100), tetapi harus diingat bahwa dalam bahasa Italinya tidak disebut C (angka Latin) tetapi ‘cento’ yang artinya ‘seratus.’.

Pada pembuka kitab IB disebutkan bahwa Barnabas salah seorang murid Yesus, yang bersama-sama dengan Petrus, Yohanes dan Yakobus hadir waktu Yesus dimuliakan di atas gunung (Bab-42). Yesus mengatakan kepada Barnabas bahwa Ia tidak akan disalibkan (Bab-112), bahkan Yesus memerintahkan Barnabas untuk menulis Injil (Bab-221). Fakta ini jelas berbeda dengan ke-empat Injil. Dalam Injil kanonik tidak dikenal murid bernama Barnabas, ia baru muncul di masa Kisah Para Rasul sesudah Yesus (Kisah 4:36).

KEJANGGALAN GEOGRAFI DAN BUDAYA DALAM INJIL BARNABAS

Ada beberapa kejanggalan geografi dan budaya dalam IB yang menunjukkan fakta kuat bahwa Barnabas bukan ‘saksi mata’. Disebutkan bahwa Yesus naik kapal ke Nazaret (Bab-20), padahal Nazaret ada di pegunungan. Yesus disebut naik dari Nazaret ke Kapernaum (Bab-21) padahal Kapernaum lebih rendah dari Nazaret. Pada Bab-145-150 disebut bahwa kaum Farisi menjadi rahib, tidak kawin, dan berjubah istimewa, dan berasal nabi Elia. Ini sebenarnya gambaran kekristenan pada abad-abad pertengahan setelah timbulnya kerahiban.

Disebutkan bahwa prajurit romawi berguling seperti tong anggur kosong ke luar dari bait Allah (Bab-152). Kenyataannya, pada masa Yesus orang Romawi tidak diperkenankan masuk bait Allah, dan pembuatan tong-tong anggur dari kayu adalah budaya abad pertengahan. Bab-69 menyebut para imam berpakaian indah dan naik kuda, padahal dalam Injil kanonik para Imam tidak pernah disebut naik kuda. Pada Bab-56-58,135 ada diskripsi tentang tujuh dosa pokok dan tujuh tingkat dalam neraka. Ini adalah hasil teologia Katolik abad pertengahan.

NAFAS ISLAM DALAM INJIL BARNABAS

Dalam IB ternyata banyak bagian-bagian yang sebenarnya bernafaskan ajaran Islam, ini menunjukkan bahwa kitab IB tentu di tulis sesudah kehadiran agama Islam. Beberapa contoh mengenai hal ini adalah:

Pada Bab-44 disebutkan bahwa Abraham mengorbankan Ismail dan menunjuk Muhammad sebagai nabi Besar, dan disebutkan bahwa Adam berseru: ‘Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah itu.” (Bab-39,54,97).
Yesus dihadapan Sanhedrin disebut menyangkal dirinya sebagai ‘Messias’ dan menunjuk nabi yang akan datang sesudahnya (Bab-72,96). Yesus dianggap bukan ‘Anak Allah’ (Bab-48,98,222), malah pengakuan Petrus bahwa ‘Yesus adalah Anak Allah’ dianggap dosa besar (Bab-70, bandingkan Matius 16:16). Yesus juga tidak disalib karena digantikan oleh Yudas (Bab-217) dan Yesus tidak mati maupun bangkit (Bab-221-222).

Ada anggapan bahwa Messias adalah dari keturunan Ismael (Bab-43,55). Dalam Bab-192-192, Nikodemus dikatakan menemukan kitab Musa di bait Allah dan membaca bahwa ‘Ismael adalah ayah Messias’ dan ‘Ishak adalah ayah utusan Messias.’ Jadi, Yesus dalam kitab IB seakan-akan ‘Yohanes Pembaptis’ bagi Muhammad, itulah sebabnya dalam kitab ini Yohanes Pembaptis tidak disebut-sebut.

Dalam IB ada ungkapan mengenai ‘kelima waktu sembahyang’ dan ‘Uraian mengenai Allah dan sifat-sifatnya’ yang dengan jelas kita ketahui sebagai hasil teologi Islam.

KESIMPULAN
Kitab IB menuntut sebagai kitab ‘Injil Tunggal’ dan mendiskreditkan ke-empat Injil kanonik. Nada kitab IB menyalahkan Alkitab (khususnya Perjanjian Baru) dan menonjolkan ajaran Islam. Namun, kamus Islam sendiri menyebut tentang kitab ini bahwa: “Sehubungan dengan Injil Barnabas tidak ada yang keberatan atasnya sebagai suatu kepalsuan zaman pertengahan …. Ia mengandung sejumlah pertentangan yang dipastikan bermula sejak abad pertengahan dan tidak pada zaman sebelum itu.” Bahkan, disebutkan pula bahwa buku itu malah tidak sesuai dengan aqidah Islam sendiri: “Ia memutar balikkan keutuhan doktrin Islam, menyebut Isa dengan “al-Masi’ah” yang Islam tidak membenarkannya. Selain ia merupakan pemikiran yang asing dalam sejarah kekeramatan, gaya bahasanya cenderung mengejek Injil, sebagaimana tulisan-tulisan Baha’ al-Allah terhadap al-Quran.” (Cyril Glasse, Ensiklopedia Islam, hlm.53).

Penulis kitab IB bukanlah Barnabas dalam Alkitab Perjanjian Baru, melainkan seorang Eropah (Italia?) yang hidup pada akhir abad pertengahan yang tidak menguasai geografi Israel, dan kurang memahami adat-istiadat budaya abad pertama dimana Barnabas ‘yang asli’ hidup. Cara penulisan dan kertas yang digunakan menunjukkan produk abad itu, demikian juga bahasa asli kitab IB merupakan campuran dari dua dialek Italia yaitu ‘Tuska & Venezia’, padahal bahasa ini belum lahir pada saat Yesus hidup dan baru pada abad-XIII merupakan bahasa tulisan. Kesalahan-kesalahan dalam penulisan bahasa Itali pada kitab IB menunjukkan bahwa penulisnya mempunyai latar belakang Spanyol.

Karena itu, kitab IB ini kemungkinan dikarang oleh seorang Yahudi Spanyol yang tinggal di Italia yang pada abad pertengahan itu dipaksa masuk agama Kristen Katolik, karena itu untuk pembalasan ia berpindah ke agama Islam dan berusaha menyesuaikan kitab Injil dengan ajaran agama Yahudi (panyangkalan Yesus sebagai Messias) dan Islam (Penonjolan Muhammad). Kitab IB ini ditulis sesudah agama Islam berdiri (abad-VII) karena banyak ajaran Islam ada di dalamnya, tetapi lebih tepat diantara abad-XIII s/d XVI karena mencerminkan beberapa teologi Katolik yang lahir pada abad-abad tersebut.  Kiranya informasi ini memperjelas mengenai apa dan bagaimana sebenarnya yang disebut sebagai kitab ‘Injil Barnabas’ itu sehingga diskusi bisa beranjak dari kenyataan sejarah. Semoga berguna.

Sumber : Herlianto/YBA

INJIL BARNABAS SUATU KESAKSIAN PALSU

Satu Pertanyaan: Mengapa Orang Kristen Tidak Mengenal Injil Barnabas?

A.Q
Jazzin
Libanon

PENDAHULUAN

Sudah ditetapkan bahwa kitab yang dikenal sebagai “Injil” Barnabas sama sekali tidak berkaitan dengan kekristenan. Karena kitab itu adalah satu kesaksian palsu tentang Injil kudus dan merupakan satu upaya untuk menyatakan hal-hal yang sangat keliru tentang agama Kristen. Dalam banyak hal kitab ini disamakan dengan bentuk Al Qur’an yang ditulis oleh Museilma, si pendusta, atau yang dikarang oleh Al-Fadhl bin Rabi’. Kitab yang dikaitkan dengan Barnabas ini diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Dr. Khalil Sa’adah, dari salinan dalam bahasa Inggeris pada tahun 1907 untuk memenuhi permintaan Sayyid Muhammad Rashid Ridha, seorang pendiri majalah Manar. Hal mana ditolak sepenuhnya oleh orang-orang Kristen karena terjemahan itu merupakan satu pemalsuan naskah. Mereka yang menerimanya adalah suatu sekte orang Muslim. Mereka berbuat demikian dengan alasan yang sangat sederhana karena bagian-bagian kitab itu menyokong pernyataan bahwa Al-Masih tidak disalibkan, tetapi kemiripan-Nya jatuh pada Yudas yang disalibkan menggantikan Dia.

PANDANGAN PARA SARJANA

Sarjana-sarjana yang meneliti dengan cermat tentang pokok ini secara bulat berpendapat bahwa buku ini, yang dikaitkan dengan Barnabas, tidak pernah ada sebelum abad ke 15. Hal ini muncul hampir 1.500 tahun sesudah kematian Barnabas. Seandainya buku ini dapat digunakan pada periode tersebut, maka sarjana-sarjana Muslim seperti Al-Tabari, Al-Baidhawi, dan Ibn Kathir tentunya tidak akan terpecah-pecah dalam pandangan mereka tentang akhir kehidupan Al-Masih, dan tentang pengenalan secara pribadi akan seseorang yang dikatakan telah disalibkan menggantikan Dia.

Jika kita hubungkan dengan tulisan-tulisan Muslim seperti “Golden Pastures” (Penggembalaan Emas) oleh Al-Mas’udi, “The Beginning and the End” (Yang Awal dan Yang Akhir), oleh Imam ‘Imad-ud-Din, dan “Ibrizi’s Version” (Versi Ibrizi) oleh Ahmad Al-Magrizi, kita dapat mencatat bahwa sarjana-sarjana yang terpandang ini menyatakan dalam karya-karya tulisan mereka, bahwa Injil orang Kristen yang ditulis oleh keempat penulis Injil, yakni Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Al-Mas’udi menulis, “Kami telah menyebutkan nama-nama kedua belas dan ketujuh puluh murid-murid Al-Masih, tentang penyebaran mereka di seluruh negeri, dan berita-berita lain meliputi pekerjaan dan tempat penguburan mereka. Penulis keempat Injil termasuk Yohanes dan Matius ada diantara kedua belas orang itu, sedangkan Lukas dan Markus ada diantara kelompok tujuh puluh” (Al-Tanbih wal Isharaf, halaman 136).

Kalau kita melihat pada naskah-naskah kuno dari Alkitab, jauh ke belakang pada masa sebelum Islam dan masa di mana Al Qur’an menunjukkan dan menyaksikan kebenarannya, maka kita tidak akan temui apa yang disebut Injil yang dihubungkan dengan Barnabas. Dan juga tidak disebutkan dalam daftar isi dari kitab-kitab yang membentuk Alkitab sebagaimana yang disiapkan oleh pemimpin-pemimpin gereja.

Suatu penelitian sejarah menunjukkan bahwa naskah asli dari Injil palsu ini muncul untuk pertama kali pada tahun 1709 dalam barang Craemer, seorang Penasehat Raja Prusia. Naskah ini diambil dari padanya dan disimpan di Perpustakaan Wina pada tahun 1738. Semua sarjana yang menelitinya mencatat bahwa sampul buku ini terbuat dalam gaya Timur karena itu mempunyai catatan pinggir dalam bahasa Arab. Dari pengujian kertas dan tinta yang digunakan, nampak bahwa itu ditulis pada abad ke 15 atau ke 16.
Sarjana Inggeris, Dr. Sale, mengatakan bahwa ia menemukan buku ini dalam bahasa Spanyol yang ditulis oleh seorang Ukraina bernama Mustafa Al ‘Arandi, yang mengklaim telah menterjemahkannya dari bahasa Itali. Dalam pendahuluan dari salinan ini dinyatakan bahwa seorang biarawan bernama Marino, yang dekat dengan Paus Sixtus V, mengunjungi perpustakaan Paus pada satu hari di tahun 1585, dan menemukan sebuah surat dari St. Irenaeus yang mengeritik rasul Paulus dan mendasarkan kritikannya itu pada Injil Barnabas. Setelah itu Marino berkeinginan kuat untuk menemukan Injil itu.

Suatu hari ia berjumpa dengan Paus Sixtus V dalam perpustakaan kepausan, dan ketika mereka berbincang-bincang, Paus tertidur. Biarawan ini menggunakan kesempatan tersebut, ia mencari buku itu dan menemukannya, ia menyembunyikannya dalam salah satu lengan bajunya. Ia berada di sana sampai Paus terbangun, baru ia meninggalkan tempat itu, dengan membawa buku tersebut. Walaupun begitu, setiap orang yang membaca tulisan St. Irenaeus ini tidak akan menemui petunjuk-petunjuk menyangkut Injil Barnabas dan juga tidak ada kritikan dalam bentuk apapun yang ditujukan kepada Rasul Paulus.

Memang ada satu fakta yang dapat diketahui oleh setiap orang. Ada dituliskan dalam Kisah Para Rasul bahwa Barnabas sendiri bersama-sama dengan Paulus selama Paulus memberitakan Injil di Yerusalem, Antiokia, Ikonium, Listera dan Derbe. Barnabas juga memberitakan Injil bersama keponakannya di pulau Siprus. Ini menyatakan bahwa Barnabas adalah seorang yang percaya pada Injil salib yang diberitakan oleh Paulus, Markus dan Rasul-Rasul lainnya dan dapat disingkatkan dalam satu kalimat pendek: Al-Masih telah mati di kayu salib sebagai satu korban penebusan bagi dosa-dosa dunia dan bangkit kembali pada hari yang ketiga untuk pembenaran bagi setiap orang yang percaya. Karena Injil Barnabas menyangkali akan dasar kenyataan ini, maka buktinya pun sudah jelas bahwa kitab tersebut adalah satu pemalsuan.

Beberapa sarjana beranggapan bahwa penulis Injil Barnabas ini adalah biarawan Marino sendiri, sesudah ia memeluk agama Islam dan dinamakan Musatafa Al-‘Arandi. Sarjana-sarjana lainnya cenderung percaya bahwa versi Italia ini bukan copy yang pertama karena diterjemahkan dari bahasa Arab sebagai yang asli. Karena setiap orang yang membaca injil yang diduga sebagai Injil Barnabas dapat menyadari bahwa penulisnya memiliki satu pengetahuan Al Qur’an yang luas dan hampir seluruh isinya merupakan terjemahan secara hurufiah dari ayat-ayat Al Qur’an. Satu-satunya di antara yang pertama memeluk pandangan ini adalah Dr. White, di tahun 1784.

PENGARANGNYA: SEORANG KRISTEN YANG BERALIH MEMELUK AGAMA ISLAM

Apapun pandangan-pandangan para sarjana nantinya, yang pasti adalah bahwa buku ini mengkaitkan sejarah Al-Masih dalam suatu bentuk yang selaras dengan isi Al Qur’an dan bertentangan dengan isi Injil. Hal ini menuntun kita untuk meyakini, bahwa penulisnya adalah seorang Kristen yang kemudian memeluk agama Islam. Seperti yang kita lihat dalam beberapa contoh berikut ini, di mana terdapat suatu petunjuk yang melebih-lebihkan Muhammad di atas Al-Masih. Dituliskan bahwa Al-Masih berkata, “Dan ketika Aku telah paham kepadanya, jiwaku telah dipenuhi dengan penghiburan sembari berkata, ‘Oh Muhammad, semoga Allah beserta engkau, dan mudah-mudahan Dia menjadikan Aku layak untuk membuka tali sepatumu karena mencapai ini, Aku akan menjadi seorang Nabi Besar dan orang kudus utusan Allah’ ” (Injil Barnabas 44 alinea 30-31). Juga dikatakan, “Dan Al-Masih berkata, walaupun Aku tidak layak membuka ikatan tali (sepatu) nya, Aku telah menerima anugerah dan karunia (Injil Barnabas 97 alinea 10).

Buku ini berisikan ungkapan-ungkapan yang cocok dengan tulisan-tulisan Muslim kuno. “Al-Masih menjawab, ‘Nama dari Messiah itu adalah ‘Terpuji’, karena Allah sendiri memberinya nama itu, ketika Dia menciptakan roh-Nya, dan menempatkannya dalam sebuah kemuliaan surgawi. Dan bersabda, ‘Tunggulah Muhammad, karena demi engkau, Aku berkehendak menciptakan surga, dan dunia dan semua makhluk, yang aku serahkan kepadamu, sehingga siapa pun yang memberkati akan diberkati, dan siapa saja yang mengutuki engkau, akan dilaknat. Apabila Aku mengutus engkau ke dunia itu, Aku akan jadikan engkau sebagai PesuruhKu untuk keselamatan, dan perkataanmu akan benar, langit dan bumi akan hancur musnah namun kepercayaanmu (agamamu) tak akan pernah musnah. ‘Muhammad, datanglah cepat-cepat untuk keselamatan dunia” (79 alinea 14-18).

“Dan ketika Adam bangun dan berdiri ia suatu tulisan surya, yang berbunyi, ‘Hanya adalah Allah Maha Esa, dan Muhammad adalah pesuruh Allah Dalam pada itu Adam membuka mulutnya dan berkata, ‘Aku berterima kasih padaMu, O Allah Tuhanku, bahwa Engkau telah sudi menciptakan daku, akan tetapi ceritakan kepadaku, aku mohon kepada Engkau, apa maksud amanat dari kata-kata ini, ‘Muhammad adalah Pesuruh Allah'”. Allah menjawab: “Selamat datang, hambaKu Adam. Sesungguhnya Aku berkata padamu bahwa engkau adalah ciptaanKu yang pertama dari semua mahluk. Hal yang kamu lihat ini adalah anakmu yang datang kedunia kelak. Dia akan menjadi pesuruhKu yang mana telah Aku ciptakan baginya. Kalau ia datang, ia akan memberi terang kepada dunia, yang mana jiwanya telah ada di surga 6.000 tahun sebelum aku menciptakan semua. Adam menjawab: Oh, Tuhan berikanlah tulisan ini pada kuku jariku, dan Allah menuliskan tulisan pada jempol kanan Adam. Tiada illah lain kecuali Allah dan pada jempol kiri Muhammad adalah pesuruh Allah (39:14-26).

“Allah mengundurkan diri, dan malaikat Mikhail mengusir mereka keluar dari taman firdaus. Ketika Adam menoleh ke belakang ia melihat tulisan dilantai. Tiada illah lain, selain Allah dan Muhammad adalah pesuruh Allah. Oleh sebab itu ia menangis dan berkata, semoga hal ini menjadi keridhaan Allah, Muhammad datanglah segera selamatkan kami dari kesengsaraan” (41 alinea 29-31). Pernyataan-pernyataan ini lebih sejalan baik dalam kata-kata maupun rohnya dengan tulisan-tulisan Muslim kuno, seperti “Al-Ithafat Al-Saniyya bil Ahadith Al-Qudusiyyah” dan “Al-Anwar Al-Muhammaddiyyah minal Mawahib Al-Laduniyyah” dan “Al Isra Mu’jiza Kubra, “dan lain-lainnya.

SANGAT BERTENTANGAN DENGAN INJIL KUDUS

Tak terbilang banyaknya bukti-bukti yang menunjukkan bahwa penulis Injil Barnabas ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan para rasul Al-Masih, atau murid-murid-Nya yang menuliskan kitab mereka di bawah ilham Roh Kudus. Berikut ini beberapa bukti tentang hal itu.

Bukti pertama adalah ketidak-tahuan penulisnya tentang ilmu bumi Palestina dan negara tempat terjadinya kisah-kisah yang bersifat agama ini. Dia berkata, “Al-Masih pergi ke laut Gelilea, dan naik ke dalam sebuah perahu berlayar ke kotanya Nazareth; dalam pada itu terjadi suatu topan di laut, sampai akhirnya perahu itu hampir tenggelam” (20 alinea 1-2). Sudah sama diketahui dengan baik bahwa Nazareth terletak di atas bukit di Gelilea dan bukan sebuah kota di pesisir pantai, seperti yang dikatakan penulis ini. Di bagian lainnya dia berkata, “Ingatlah bahwa Allah-telah mentaqdirkan untuk menghancurkan Nineveh, karena Dia tiada menjumpai seorang pun yang takut kepada Allah. Allah telah memanggil Nabi Yunus dan mengutusnya ke kota itu, tetapi dia telah melarikan diri ke Tarsus karena takut kepada penduduk itu, oleh sebab itu Allah menyebabkan dia dilemparkan ke dalam laut, lalu di telan oleh seekor ikan dan dilontarkan keluar dekat Nineveh” (63 alinea 4-7). Sudah diketemukan dengan baik bahwa kota Nineveh ini adalah ibu kota dari Kerajaan Asyur dan didirikan di atas jalur sebelah timur sungai Tigris, di atas satu pintu keluar (gerbang) yang dikenal dengan nama Al-Khirs. Sebab itu kota ini tidak terletak di daerah Timur Tengah, seperti yang dilaporkan penulis.

Kedua, ketidak-pahaman penulis tentang sejarah kehidupan Al-Masih. Pada pasal ketiga dari Injil yang palsu ini, ada tertulis, “ketika Al-Masih lahir , Pilatus adalah Gubernur, sedangkan jabatan kepala agama dipegang oleh Annanias dan Caiphas” (3 alinea 2). Hal ini sama sekali tidak benar, karena Pilatus menjadi Gubernur dari tahun 26 sampai 36 Masehi. Sedangkan Annanias menjabat sebagai kepala agama pada tahun 6 Masehi dan Caiphas dari tahun 8-36 Masehi. Dalam pasal 142 dituliskan bahwa Messiah tidak akan datang dari keturunan Daud tetapi dari keturunan Ismail, dan bahwa Perjanjian itu diberikan kepada Ismail dan bukan kepada Ishaq (124:14). Ini merupakan kesalahan yang besar karena setiap orang yang membaca silsilah Al-Masih dalam Injil yang sejati (benar) akan melihat bahwa silsilah itu, menurut daging, Dia berasal dari keturunan Daud, dari suku Yehuda.

Ketiga, pengarangnya memasukkan kisah-kisah yang sama sekali tidak berakar pada agama Kristen. Kutipan-kutipan berikut ini merupakan contoh dari kisah-kisah tersebut. “Lalu firman Allah kepada pengikut setan, ‘Bertobatlah kamu dan bersyahadatlah kepada Aku karena Allah, Pencipta kalian.’ Mereka menjawab, ‘Kami telah berpaling dari melaksanakan sujud kepada Engkau, karena Engkau tidak adil; hanya Satan adalah adil dan tak berdosa dan dia adalah Tuhan kami. ‘..Kemudian Satan, sambil pergi telah meludah pada tanah bumi itu, dan Malaikat Jibril mengangkatkan ludah itu beserta sedikit tanah, sehingga sekarang manusia mempunyai pusat pada perutnya” (35 alinea 25-27).

“Al-Masih membalas, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Aku telah kasihan kepada syaithan, ketika Aku tahu tentang kejatuhannya; dan Aku kasihan kepada manusia yang digodanya kepada dosa. Karena itu Aku telah berdoa dan puasa kepada Allah kita yang berbicara kepadaKu dengan perantaraan MalaikatNya Jibril, “apakah tuntutan engkau O Al-Masih, dan apakah permohonan Engkau?” Aku menjawab, Allah, Engkau mengetahui tentang dosa yang disebabkan syaithan dan lewat godaan-godaannya yang banyak yang binasa, dia adalah ciptaanMu karena itu Aku mohon ampunilah mereka. Ya Tuhan Allah menjawab, ‘Al-Masih perhatikanlah, Aku mau mengampuni dia, hanya kalau dia berkata, Allah Tuhanku, aku telah berdosa, berilah ampunan kepadaku, dan Aku akan mengampuni dia dan mengembalikannya kepada kedudukannya semula. Kata Al-Masih, ketika aku mendengar ini, aku sangat gembira percayalah bahwa aku telah membuat perdamaian ini. Karena itu aku memanggil syaithan, dan dia bertanya “Apa yang harus aku perbuat untukmu, O Al-Masih? Aku menjawab, ‘Engkau akan melakukannya untuk dirimu sendiri, O syaithan, karena aku tidak senang terhadap perbuatanmu, tetapi untuk kebaikanmu telah aku panggil engkau. ‘Syaithan membalas, ‘Jika kamu tidak berkeinginan kepada bantuanku aku juga tidak menginginkan bantuanmu; karena aku lebih mulia dari pada kamu, kamu tidak layak untuk melayani aku, kamu adalah dari debu sedangkan aku adalah roh” ( 51 alinea 4-20).

Tidak ada orang yang berpikiran sehat dapat percaya bahwa kisah tahyul ini berasal dari Injil yang diilhami Allah. Pertama, karena Allah tidak berkenan kepada syaithan ketika syaithan jatuh dan dibuang dari hadiratNya. Hal ini juga tidak sejalan dengan kesucian Allah yang illahi itu untuk membicarakan perdamaian dengan syaithan. Kedua, sejak mulanya Al-Masih telah masuk dalam peperangan dengan sikap tak pernah mengalah dengan syaithan. Alkitab berkata, “Barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis (syaithan), sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diriNya supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu” (I Yohanes 3:8). Ketiga, dalam peperangannya dengan Al-Masih, syaithan tidak berani berkata bahwa dia lebih hebat dari Al-Masih. Sebaliknya, di tengah-tengah orang banyak di Kapernaum ketika ia diperintahkan untuk keluar dari seseorang, dengan suara keras ia berseru, “Hai Engkau, Al-Masih orang Nazaret, apa urusanMu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau; Yang Kudus dari Allah” (Lukas 4:34).

Dengan demikian sudah ada satu kepastian yang mutlak bahwa penulis Injil Barnabas ini adalah seorang Muslim. Setiap orang yang membaca Injil Barnabas ini dengan teliti akan menemukan banyak sekali ajaran-ajaran Islam di dalamnya. Pertama, kitab ini berisikan suatu kisah keserupaan dengan Al-Masih. Pada pasal 112 dikatakan. “Ketahuilah, O Barnabas, bukan karena inilah aku harus berhati-hati salah seorang muridku akan mengkhianati aku dengan 30 keping perak untuk selanjutnya aku yakin bahwa orang yang akan menjual aku akan terbunuh dengan namaku, karena Allah akan mengangkat aku dari ini, dan akan mengubah rupa pengkhianat itu sedemikian rupa sehingga setiap orang akan percaya dia apabila dia mati dia akan alami suatu kematian yang buruk, aku akan tetap dalam noda beberapa lama waktu di dalam dunia ini. Akan tetapi apabila Muhammad Pesuruh suci Allah itu, datang nama buruk itu akan diangkatkan” (112 alinea 13-17). Kisah ini cocok sekali dengan pengajaran Islam pada abad pertengahan. Kedua, ada satu pendapat yang kuat bahwa Alkitab telah diselewengkan. Dalam pasal l12 dikutipkan seolah-olah Al-Masih sedang berkata, “Sesungguhnya aku berkata kepadamu, bahwa sekiranya kebenaran itu belum dihapuskan dari kitab Musa, Allah tak kan memberikan kepada Daud bapak kita, Kitab yang kedua. Dan jikalau kitab Daud itu belum dicemarkan, Allah tidak akan menyerahkan Injil kepadaku, mengingat bahwa Allah Tuhan kita tidak berubah-ubah, berbicara satu amanah untuk seluruh manusia. Oleh sebab itu bilamana Pesuruh Allah itu akan datang, dia akan datang untuk memurnikan kembali hal-hal yang telah mencemarkan Kitabku yang telah dilakukan oleh orang-orang tak beriman” (124 alinea 8-10).

Pernyataan ini merupakan satu hujatan terhadap keabsahan Alkitab, dan tidak mungkin berasal dari Al-Masih, yang berfirman, “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan berlalu” (Matius 24:35).

INJIL BARNABAS ADALAH KESAKSIAN PALSU TERHADAP AL QUR’AN

Dari mulanya sudah saya tegaskan bahwa kitab yang dihubungkan dengan Barnabas adalah satu kesaksian palsu terhadap Injil karena keseluruhan isinya bertentangan dengan Injil. Dibawah ini saya ketengahkan beberapa bagian yang terdapat dalam Injil yang palsu itu, yang juga pada gilirannya merupakan satu kesaksian palsu terhadap Al Qur’an:

1. Maka Yusuf berangkat dari Nazareth, suatu kota di daerah Galelee, dengan Maryam isterinya yang sedang hamil, …. agar dia dapat mendaftarkan nama sesuai dekrit Caesar. Setelah Yusuf sampai di Bethlehem, karena kotanya kecil, dan sejumlah besar mereka merasa asing di sana, dia tiada menemukan tempat, oleh karena itu ia mengambil penginapan di luar kota pada sebuah pemondokan yang dibuat untuk tempat berteduh penggembala. Sementara Yusuf bertempat tinggal di sana, genaplah waktunya bagi Maryam untuk melahirkan. Perawan itu dikelilingi oleh cahaya terang yang luar biasa, seraya melahirkan puteranya tanpa sakit” (3 alinea 5-10). Sedangkan isi Al Qur’an membenarkan bahwa Maryam merasakan kesakitan melahirkan seperti wanita lain umumnya, karena dikatakan: “Kemudian Maryam mengandungnya, lalu ia berpindah ke tempat yang jauh. Lalu ia berlindung ke pohon korma, karena sakit melahirkan anak, ia berkata: ‘Aduhai kiranya, matilah aku sebelum ini dan adalah aku lupa yang dilupakan'” (Surat Maryam 22-23).

2. “Celaka kepada dunia ini, karena hal itu pasti akan mengalami siksaan abadi. Oh umat manusia bedebah, karena Allah telah memilih kamu sebagai seorang anak, dan menempatkan engkau di firdaus, dalam pada itu engkau, O orang celaka oleh gerakan syaithan telah termasuk ke dalam hal yang tidak diridhai Allah dan telah terlontar keluar jannah..” (102 alinea 18-19). Sedangkan Al Qur’an memandang kepercayaan kepada ke-bapa-an Allah sebagai satu penghujatan, dan layak mendapatkan hukuman dalam neraka. Ia menyuarakan sebagai peringatan kepada “orang-orang yang mengatakan: Allah itu mempunyai anak” (Surat Al-Kahfi 4-5).

3. “Hendaklah seorang lelaki puas dengan seorang wanita yang dikaruniakan Allah baginya dan hendaklah dia melupakan wanita lainnya (116.18)”. Sedangkan Al Qur’an mengajarkan poligami (dapat beristeri lebih dari satu orang) dengan berkata, “kawinilah bagimu perempuan-perempuan yang baik bagimu, berdua, bertiga atau berempat orang. Tetapi jika kamu takut, bahwa tiada akan berlaku adil maka kawinilah seorang saja,” (Surat Al-Nisa’ 3).

4. Ketika “Allah menciptakan manusia dengan kebebasan agar dia boleh mengetahui bahwa Allah tidak membutuhkan manusia, sama seperti seorang Raja yang kebebasan kepada hamba-hambaNya untuk menunjukkan kemurahanNya supaya hamba-hambaNya lebih mencintaiNya maha kuasaanNya, ….” (155 alinea 13). Hal ini bertentangan dengan Al Qur’an yang mengatakan: “Tiap-tiap manusia Kami ikatkan usahanya (amalnya) masing-masing kedudukanya” (Surat Al-Isra’ 13). Tafsir Al-Jalalayn, dengan mengutip Muhajid sebagai sumber pendukung, menjelaskan ayat ini demikian: “Tidak seorangpun yang di lahirkan tanpa selembar kertas yang diikatkan pada lehernya dan bertuliskan apakah ia susah atau bahagia.”

5. “Kemudian Pesuruh Allah itu akan berkata, O Allah, ada diantara orang-orang yang beriman yang telah berada dalam neraka 70.000 tahun. O Allah, dimana gerangan ampunan Engkau? Hamba mohon kepada Engkau, Allah, untuk membebaskan mereka dari azab-azab pedih itu. Lalu Allah memerintahkan 4 Malaikat kesayangan Allah supaya mereka pergi ke neraka dan mengeluarkan setiap orang yang telah menganut aqidah Pesuruh-Nya dan memimpin ke dalam surga” (137 alinea 1-4). Ayat ini bertentangan dengan Al Qur’an yang sama sekali menyangkal akan permohonan ampun, karena dikatakan: “Sesungguhnya Allah mengutuki orang-orang yang kafir dan menyediakan untuk mereka api yang bernyala-nyala (neraka). Sedang mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, mereka tiada memperoleh wali dan tiada pula penolong” (Surat Al- Ahzab 64-65).

6. “Al-Masih mengaku dan mengatakan kebenaran, ‘Aku bukan Messiah itu’. Mereka berkata, ‘Apakah kamu Eliyah atau Yeremiah, atau salah seorang di antara Nabi-nabi dulu?’ Al-Masih menjawab, ‘Tidak.’ Lalu kata mereka, ‘Siapakah kamu? Katakanlah supaya kami boleh memberikan kesaksian kepada orang yang diutus kepada kami?’ Al-Masih berkata, ‘Aku adalah suatu suara yang berseru melalui seluruh Yudea, dan berteriak, ‘Persiapkan olehmu jalan untuk Pesuruh Allah itu'” (42 alinea 5:11). Al Qur’an berkata: “(Ingatlah) ketika malaikat berkata, ‘Ya, Maryam, sesungguhnya Allah memberi kabar gembira kepada engkau dengan kalimat dari pada-Nya (yakni seorang anak), namanya Almasih ‘Isa anak Maryam, yang mempunyai kebesaran di dunia dan akhirat dan termasuk orang-orang yang dekat kepada Tuhan” (A.Surat Ali Imran 45). Masih adakah, dalam kenyataannya, satu kesaksian palsu yang menentang Injil dan Al Qur’an dari pada Injil Barnabas ini? Masihkah ada seorang Muslim yang mempercayai pemalsuan ini bahwa Mesias itu adalah Muhammad anak Abdullah dan bukan Al-Masih anak Maryam?

dipetik dari :  A.Q
Jazzin
Libanon

RIWAYAT INJIL PALSU BARNABAS

Nama Barnabas pertama kali disebut dalam Perjanjian Baru,yaitu dalam kisah Para Rasul. Dia seorang Yahudi Siprus,suku Lewi,teman serta penyokong Saul dari Tarsus.

Satu-satunya naskah Injil palsu yg dikaitkan secara tradisional kepada namanya yang ada saat ini ialah salinan terbitan abad XVIII dalam bahasa Italia. Tidak ada seorangpun yang pernah melihat atau menyebut sebuah salinan asli dalam bahasa Arab. Lagi pula tidak ada bukti untuk mendukung pendapat adanya Injil Barnabas yg asli.

Barnabas disebut dalam Kisah Para Rasul 4:36 dengan nama Yusuf. Dia menjual ladangnya dan hasil penjualannya diberikan kepada para rasul untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin. Kebaikannya mendorong mereka untuk menamakannya Barnabas,yang berarti “Anak Penghiburan”.

Dalam buku Injil palsu tsb, penulisnya membuat kesalahan besar dengan memberikan kesan bahwa nama Barnabas diberikan kepadanya oleh Yesus dan dia adalah termasuk salah seorang dari 12 murid Tuhan Yesus.

Selanjutnya dalam Kisah Para rasul diberitahukan bahwa gereja-gereja di Yerusalem enggan menerima Saul dari tarsus seorang percaya yang jujur, karena dia termasuk terkenal sebagai penyiksa orang Kristen sebelum pertobatannya:

Kemudian Barnabas menjemput dia dan membawa dia (Saul) kepada para rasul: Ia menceritakan bagaimana dia telah melihat Tuhan dan dalam perjalanan dia telah berbicara dengannya serta cara dia berkhotbah dengan berani di Damaskus dalam nama Yesus.

Dalam Kisah Para Rasul, Barnabas adalah teman Paulus.Namun dalam Injil Barnabas, dia adalah musuh besar Paulus (Lihat Kis.Para Rasul 11:25,6)

Salah satu peristiwa yang paling menarik adalah dalam penginjilan bersama Barnabas dan Paulus yg disebut kembali dalam Kis.15:1-2.Penulis Injil Palsu itu mengatakan bahwa ajaran Paulus mengenai Yesus sebagai Anak Allah serta pemaksaannya agar orang-orang bukan Yahudi disunat sangat ditentang Barnabas, sedangkan dalam kisah para rasul diungkapkan
sebaliknya.

Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ,”Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan Musa,kamu tidak dapat diselamatkan.Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu.

Akhirnya ditetapkan,supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu.

Sumber dari Buku Anish Shoros.

INJIL BARNABAS

Mendengar kata ‘Injil’, orang mendapat kesan bahwa ‘Injil’ itu sesuatu yang bersifat rohani, yang suci, yang benar dan yang datang dari Tuhan. Tetapi terhadap satu Injil ini (Barnabas -red), dengar baik, kita harus waspada karena Injil Barnabas yang oleh sepupu kita dikenal sebagai Injil yang asli adalah palsu!

Barnabas bukanlah salah seorang dari murid Yesus yang dua belas orang itu. Nama Barnabas ini baru muncul di dalam Kisah Para Rasul setelah Yesus naik ke Sorga (baca Kis.4:36 dan Kis.11:25-36). Namun Barnabas sendiri TIDAK PERNAH menuliskan Injil. Jadi Barnabas hidup bersama Paulus dan ikut aktif dalam pemberitaan Injil.

Lalu mengapa ada Injil Barnabas?

Riwayatnya begini, pada tahun 1709 dunia Kristen digemparkan oleh berita adanya Injil aneh yaitu Injil Barnabas dalam bahasa Italia yang ditemukan oleh seorang Penasehat Raja Prusia, bernama Cremer. Saat ini Injil tersebut disimpan di sebuah museum di Wina, Austria. Mengapa aneh? Karena isinya sangat berbeda dengan Injil yang sudah dibakukan sejak tahun 325.

Maka dilaksanakan investigasi secara seksama atas Injil aneh ini. Ternyata kertas yang dipakai adalah kertas yang lajim dipakai orang antara abad XIV dan XVI. Diperkirakan Injil aneh ini ditulis pada tahun 1585, yaitu zaman Paus Sixtus ke V yang bertakhta pada tahun 1585-1590. Investigasi selanjutnya menemukan bukti-bukti bahwa penulis Injil aneh ini adalah MUSTAFA DE ARANDE, seorang muslim Arab berkebangsaan Spanyol yang bersiluman dengan nama samaran FRA MARINO.

Mustafa, sebagai pakar muslim hafal benar dengan ayat-ayat di dalam alquran, antara lain :

“……Isa berkata: ……rasul yang akan datang sesudahKu namanya ahmad (muhammad)” (Qs. 61 Ash Shaaf 6)

Ayat ini menggerakkan hati Mustafa untuk membaca Taurat dan Injil. Dengan ketekunan yang luar biasa dibacanya berulang-ulang dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu. Hasilnya sangatlah tragis, hatinya yang bergelora dan semangatnya yang berkobar, berubah jadi lunglai tak berdaya lagi dan frustrasi karena TIDAK SEPATAH KATAPUN Taurat dan Injil menyebut atau mengisyaratkan (baik secara eksplisit maupun implisit) akan datangnya nabi bernama Muhammad ini.

Seorang nabi diakui kerasulannya dengan kriteria, sbb:

1. Dinubuatkan oleh nabi sebelumnya
2. Bernubuat untuk hal-hal yang akan datang
3. Bermujizat

Sebab Yesus sebagai Nabi dan Rasul memang sudah:

1. Dinubuatkan
2. Bernubuat, dan
3. Bermujizat

Bagi nabinya Mustafa ternyata tidak dinubuatkan, tidak bernubuat dan tidak bermujizat, maka apa boleh buat ambil jalan pintas, potong kompas saja bikin cerita nubuat sendiri, tuliskan injil sendiri dan diberi nama Injil Barnabas. Menipu, mengambil nama palsu nampaknya boleh-boleh saja, halal-halal saja bagi seorang bernama Mustafa, demi membela FANTASI agamanya.

Mustafa menuliskan di dalam Injil Palsunya, demikian : AKAN DATANG NABI BERNAMA MUHAMMAD. Dan ini akan berlangsung sehingga datangnya muhammad rasul allah yang apabila ia datang akan membongkar kepalsuan ini bagi mereka yang percaya dengan syariat allah (Injil Palsu Barnabas 220:20).

Sebelum ayat ini, terdapat pula ayat yang aneh bin ajaib yang menelanjangi Mustafa sendiri yaitu yang menyebutkan bahwa penulisnya adalah seorang Arab; padahal seperti kita ketahui seluruh Taurat dan Injil ditulis oleh nabi-nabi atau orang-orang Yahudi semuanya. Ayat aneh yang tidak ada kaitannya dengan ayat sebelum maupun sesudahnya ini persis berbunyi demikian : “Aku tiada sempat membaca kitab itu seluruhnya karena kepala Imam – yang aku berada di ruang bacanya – melarang aku, katanya: bahwa seorang ismaeli yang menulisnya” (Injil Palsu Barnabas 192:4). Maka terbukalah kedoknya, terbongkarlah niat jahatnya. Dia menggali lubang, terperosok ke dalam lubang buatannya
sendiri (Mazmur 7:16).

Lagi-lagi Pak Kiai bernama Mustofa ini terjebak akan ulahnya sendiri, karena dia menulis dalam Injil Palsunya itu demikian: “Mendakilah Yesus ke Kapernaum dan Ia telah mendekat dengan negeri. Tiba-tiba ada seorang yang keluar di antara kubur-kubur, kemasukan setan yang mendalam sehingga tidak satu rantaipun yang kuat mengikatnya, dan menyebabkan bahaya bagi orang banyak. Maka menjeritlah setan-setan itu dari mulutnya, katanya : Ya kudus Allah, mengapa Engkau datang sebelum waktunya untuk menggusarkan kita! Dan bermohonlah mereka kepadaNya untuk tidak mengeluarkan mereka. Lalu Yesus menanyakan, berapa jumlah mereka? Menjawablah mereka : enam ribu enam ratus enam puluh enam” (Injil Palsu Barnabas 21: 1-6). Disini si Mustofa terjebak lagi, sebab bilangan angka 6666 merupakan bilangan yang diimani oleh sepupu kita sebagai bilangan yang menunjuk kepada jumlah ayat Al-Qur’an. Masakan jumlah setan sama banyaknya dengan jumlah ayat suci itu (entah apakah korelasi ini yang memicu munculnya kasus Satanic Verse yang krusial di Iran satu dekade yang lalu. Penulis Ayat-Ayat Setan itu sendiri adalah Salman Rusdhie). Kalau Mustofa hidup di zaman sekarang ini pasti dia babak belur digebukin orang sepupu kita yang emosional itu, bahkan tidak mustahil akan menemui ajalnya atas kelalimannya sendiri (Mazmur 7 : 17).

Mustafa juga hafal ayat Qs 4 An Nisaa 157-158 yang menyebut bahwa Isa tidak mati disalib tetapi diangkat ke sorga. Namun Mustafa juga membaca Injil bahwa Yesus itu mati disalib. Nah sekalian saja menipunya, tidak usah susah-susah, bikin saja ayat yang sesuai dengan ayat dalam alquran : “Dan allah yang menguji isi hati manusia, mengetahui bahwa kita telah luluh di antara kesedihan atas matinya Yudas yang kita sangka Yesus guru kita itu dan kerinduan untuk melihatnya bangkit lagi” (Injil Palsu Barnabas 219:4).

Masih banyak lagi tipuan-tipuan dari Mustafa, namun contoh tersebut sudah cukup untuk diambil kesimpulannya, yaitu bahwa Mustafa adalah seorang yang jenius tapi guuobloq, cerdik seperti ular hanya tidak tulus seperti merpati. Sehingga menjadi ular benar-benar, menjadi penipu yang ulung atau khoirul maakiriin, sebagai warisan Abunawas, dan yang telah membuat palsu segala-galanya.

Namanya saja palsu; karena nama sebenarnya Mustafa, menipu dengan mengaku bernama Marino. Apalagi nama injilnya so pasti palsu, Barnabas tidak pernah menulis Injil, namanya telah dicatut jadi nama injilnya. Isinya apa lagi, semuanya FANTASI, palsu, dan nampaknya ini adalah satu-satunya penipuan terkonyol di sepanjang sejarah peradaban manusia.
Jangan heran kalau sampai hari ini mereka pun masih tetap hidup di dunia yang sama, yaitu DUNIA FANTASI.

in His service,
Pet. Gerhard Genoce

(Disalin dari tulisan Pet. Gerhard Genoce)

TELAAH KRITIS ATAS “INJIL PALSU-BARNABAS”
Saking kalapnya berupaya membuktikan dalilnya bahwa Alkitab sudah tidak asli lagi (ta’rif) dan juga berupaya menunjukkan Alkitab yang asli (yang tidak (akan) pernah mampu dihadirkan), mereka yang sinis terhadap Alkitab (baca: kaum Muslim) langsung semangat dan gembira begitu menemukan suatu dokumen yang diklaim sebagai “injil barnabas” padahal tidak pernah diselidiki secara kritis.

“Semula, ada sebuah kabar burung. Seorang biarawati katolik berhasil mencuri “injil barnabas” dari perpustakaan Paus Sixtus V (1521-1590) ketika Sri Paus sedang tertidur. Setelah menekuni isinya, spontan biarawati tersebut masuk Islam. Biarawati tersebut telah berhasil menemukan dan menyelamatkan injil yang asli.”

Kaum Muslim lalu berbondong-bondong mengalih-bahasakan, menerbitkan, mengutip dan mempropagandakannya. Pada saat inipun “injil barnabas’ dapat dengan mudah dibeli di toko-toko buku Islam yang merasa terbeban untuk kepentingan dakwah Islam.
Daya pukau yang cukup menyilaukan mata sementara orang, dapat dibaca dari tantangan Sjech Muhammad Abuzahrah dalam bukunya: “Muhadlarat fi an-Nasraniyah” agar agar sarjana Kristen membahasnya.Prof. K.H. Anwar Musaddad sampai menggolongkan kitab tersebut sebagai hadits walaupun dalam kategori dhaif. Ditambahkan pula, umat Islam dapat menerima kitab tersebut sebagai “berita-berita Israiliyah” yaitu berita-berita di sekitar bani Israel yang terdapat dalam kitab-kitab mereka.
Masih ada pula beberapa nama yang terpukau termasuk Syech Muhammad Rasyid Ridha, pengarang tafsir Al-Manar yang terkenal itu, yang memperingatkan kaum Kristen tentang kewajiban untuk mempercayainya.

Tetapi ada pula kaum Muslim yang justru menolaknya seperti Prof. Drs. K.H. Hasbullah Bakry, S.H. yang malahan memustahilkan kitab tersebut berasal dari seorang murid Yesus karena tidak berbahasa Aram atau Yunani. Ia setuju bahwa kitab tersebut pasti berasal dari abad ke-15 karangan dari seorang Italia yang kemudian memeluk Islam. Padahal Ia pernah menjadi asisten dosen dari Prof. Ahmad Syalabi, seorang maha guru Universitas Al-Azhar Kairo yang pertama kali memperkenalkan kitab tersebut dalam rangka perjalanan kuliah di Indonesia.
Abbas Mahmud Al-Aqqad seorang pengarang Islam terkenal, juga membenarkan pendapat di atas.

Lucunya, dokumen yang diklaim sebagai “injil barnabas” tersebut sama sekali tidak mendapat perhatian dari Kaum Kristen. Mengapa..? Silahkan baca di bawah ini.

Menurut kesimpulan para ahli yang melakukan penyelidikan dari materi mansukripnya, umur “injil barnabas” tidak dapat lebih tua dari tahun 1575. Sebagaimana diketahui, satu-satunya manuskrip tertua adalah yang berada di Wina tertulis dalam bahasa Italia.

Bahasa Italia yang digunakan banyak mengandung kesalahan, ada beberapa kejanggalan seperti HANNO (tahun, seharusnya ANNO) dan CHRISSTO (Kristus, seharusnya CHRISTO) dan banyak lagi.Bahasa Italianya juga bukan bahasa yang baik karena banyak susunan kalimat memperlihatkan jelas istilah-istilah Toscan bahkan secara kesluruhan tersusun dalam dialek Toscan dan Venezian. Manuskrip tersebut juga dipastikan bukan hasil terjemahan dari bahasa lain sebab suatu karya terjemahan biasanya masih tampak samar-samar bahasa aslinya. Hal ini sama sekali tidak nampak pada kitab tersebut sehingga dapat dipastikan ditulis dalam bahasa Italia, bahasa yang belum ada pada jaman Yesus dan baru muncul 13 abad sesudahnya.

Pada halaman depan, ada judul yang dibubuhkan pengarangnya:
INJIL YANG BENAR TENTANG YESUS YANG BERGELAR KRISTUS, SEORANG NABI BARU YANG DIUTUS ALLAH KE DUNIA, MENURUT URAIAN BARNABAS, RASULNYA (TRUE GOSPEL OF JESUS, CALLED CHRIST, A NEW PROPHET SENT BY GOD TO THE WORLD: ACCORDING TO THE DESCRIPTION OF BARNABAS, HIS APOSTLE).

Juga di bagian pendahuluan di bawah judul tersebut: Barnabas, rasul Yesus orang Nazareth yang bergelar Kristus (Barnabas, apostle of Jesus the Nazarene, called Christ), beramanat kepada segenap umat, yang berbenah di persada bumi menginginkan kedamaian serta penghiburan.

Ada dua kesalahan serius, Barnabas bukan salah seorang dari antara kedua belas murid perdana Yesus. Ia baru muncul dalam awal sejarah gereja purba (Kisah 4:36 dan sesudahnya) setelah kebangkitan Kristus. Kedua, Yesus diakui sebagai KRISTUS (Al-Masih) tetapi dalam pasal- pasal lainnya disangkal sebagai “Messiah” (Mesias). Misalnya dalam Pasal 96 dengan gaya sumpah Nabi Muhammad, Yesus berkata: “Demi Allah, pada diriNya sendiri, jiwaku berdiri, bahwa Aku bukanlah Messiah itu (As God liveth, in whose presence my soul standeth, I am not the Messiah)” dan masih banyak pasal lainnya. Mustahil Barnabas orang Yahudi abad pertama itu tidak mengerti bahwa istilah Yunani “Kristus” merupakan terjemahan dari istilah Ibrani “Massiakh”/ Messiah (lihat Yoh. 1:41). Paham mesianik merupakan jantung pengharapan dari agama Yahudi yang merupakan tema laris kesasteraan apokaliptik abad-abad menjelang dan awal tarikh Masehi.

Pasal 3 “injil” tersebut memuat hikayat kelahiran Yesus: “Di sana ketika itu Herodes memerintah atas tanah Yudea dengan titah Kaisar Agustus dan ilatus adalah Gubernur (There reigned at that time in Judea Herod, by decree of Caesar August, and Pilate was governor), sedangkan jabatan kepala agama dipegang oleh Hannas dan Kayafas.” Menurut penanggalan sejarah (yang bersesuaian pula dengan Perjanjian Baru), Pilatus menjabat sebagai gubernur atau wali negeri di wilayah itu pada tahun 29M, sedangkan Yesus dilahirkan kira-kira tahun 4 atau 5 sebelum kalender yang didasarkan atas namaNya. Untuk mengemukakan kemungkinan lain, misalnya barangkali pengarang keliru menyebutkan nama lain juga tidak mungkin, karena Kaisar Agustus baru menetapkan pemerintahan langsung atas Yudea di bawah seorang wali negeri sendiri, baru tahun 6SM.

Pasal 20 “injil” tersebut menerangkan bahwa Yesus pergi ke Galilea dengan sebuah perahu dan berlayar ke kota Nazareth: “Maka pergilah Yesus ke laut Galilea dan turunlah Ia ke dalam sebuah perahu untuk berlayar ke Nazareth, kotanya (Jesus went to the sea of
Galilee and having embarked in a ship sailed to his city of Nazareth). Dalam pada itu terjadilah topan besar di laut sehingga nyaris menenggelamkan perahu tersebut.”
Peta bumi Palestina menunjukkan bahwa Nazareth adalah sebuah kota yang terletak di dataran tinggi di mana jarak antara Nazareth dan laut Galilea kira-kira 20KM. Karenanya mustahil disinggahi sebuah perahu.

Lebih lucu lagi mengenai penggambaran kota Kapernaum di Pasal 21: “Mendakilah Yesus ke Kapernaum (Jesus went up to Capernaum), seraya pula Ia telah mendekat dengan negeri. Tiba-tiba ada seorang yang ke luar di antara kubur-kubur itu, kerasukan setan dan tidak ada satu rantaipun yang mengikatnya karena parahnya sehingga menyebabkan bahaya bagi banyak orang. Maka menjeritlah setan-setan dari mulutnya,
katanya: “a Kudus Allah, mengapa engkau datang sebelum waktunya untuk
menggusarkan kita?””
Kapernaum adalah kota pesisir yang terletak di pantai laut Galilea, tinggi permukaannya tentu saja lebih rendah daripada kota Nazareth.

Pasal 54 tertulis nama mata uang spanyol kuno dalam pembicaraan antara Yesus dengan muridnya: “Barang siapa menukarkan 1 Denarius, ia mesti memperoleh 60 Minuti”. Pasti sang pengarang merasa susah payah menyelesaikan karya setebal itu sehingga keliru menuliskannya.

Pasal 152 menceritakan, pada suatu hari Sabat, Yesus masuk ke Bait Allah di Yerusalem dan para militer Romawi datang memasuki rumah ibadah itu untuk mengganggunya. Hal ini jelas tidak mungkin terjadi karena agama Yahudi melarang orang kafir masuk ke Bait Allah (lihat Maz. 74:4,7; 79:1). Demikian pula fakta sejarah memperlihatkan militer
Romawi sangat berhati-hati dalam menjalankan strategi politik atas orang-orang Yahudi dan agamanya guna menghindari pemberontakan.

Pasal 144-150 menggambarkan orang-orang Parisi sebagai biarawan-biarawan ala abad-abad pertengahan yang hidup selibat (tidak kawin) dan mengenakan pakaian khusus. Bahkan dilukiskan pula bahwa pada jaman Nabi Elia, 12 gunung waktu itu didiami oleh 17.000 orang Parisi (Pasal 145). Bukti sejarah menyatakan dengan jelas, mazhab Parisi baru timbul pada abad ke-2SM sedangkan Nabi Elia hidup kira-kira abad ke-8SM.

Demikian pula dibuktikan bahwa sekte Parisi tidak pernah hidup membiara. Sekte agama Yahudi yang membiara adalah sekte Esena di Kirbeth-Qumran (yang meninggalkan warisan yang sangat berharga yaitu naskah Laut Mati (Dead Sea Scroll) yang jelas membuktikan bahwa kecemburuan buta sementara pihak terhadap keaslian Alkitab ternyata tidak terbukti).

Sang Pengarang juga terlampau semangat untuk menempatkan ajaran Islam dalam mulut Yesus. Seringkali ia memuat hal-hal yang tidak diungkapkan Al-Qur’an sendiri melainkan hanya terdapat dalam tradisi Islam yang bahkan bertentangan dengan jiwa dan data-data dari Al-Qur’an tersebut sehingga sekarang sudah banyak ditinggalkan, misalnya soal versi penyulapan wajah Yudas dalam penyaliban (Hasbullah Bakrie, 1985: 58- 59) dan banyak contoh lainnya.

Pasal 112 Yesus mengisyaratkan bahwa Allah akan mengambilnya dari pergaulan di bumi (God shall take Me from the earth), tanpa melalui kematian. Tetapi dalam Pasal 193, sang pengarang kurang hati-hati mengerjakan kitabnya sehingga dalam hikayat pembangkitan Lazarus, Yesus justru mengisyaratkan kebangkitanNya. ia berkata bila saatnya tiba, Ia akan “tertidur” dengan cara seperti Lazarus dan secepatnya pula akan dibangkitkan.

Pasal 112 menyatakan, misteri kematian Yudas sebagai ganti Yesus, yang disebutnya “noda untuk beberapa waktu lamanya di dunia”, baru akan dibukakan pada zaman Rasullullah, PADAHAL DALAM KARANGANNYA, SANG PENGARANG TELAH MENJELASKANNYA… HAHAHA…

Masih banyak kekeliruan dan keanehan lainnya yang menggelikan, yang apabila ditulis seluruhnya akan menjadi sebuah buku.

Kemungkinan besar, sang pengarang adalah Fra Marino yang tidak lain adalah Mustafa de Aranda, seorang Yahudi-Spanyol yang telah memeluk agama Islam.

Secara garis besar, pandangan “injil barnabas” terhadap iman Kristen antara lain menyangkal ketuhanan Yesus, menolak misteri salib dan kebangkitan, “mengkambing-hitamkan Rasul Paulus dan mempertentangkannya dengan Barnabas seolah-olah kedua Rasul tersebut berpisah karena perbedaan teologis dan doktrin. Pandangan tersebut
ternyata dipergunakan oleh mereka yang menyerang iman Kristen sampai saat ini.

Mmmh… masihkah tuduhan-tuduhan tersebut digunakan begitu mengetahui “injil barnabas” adalah jelas-jelas palsu..?

disalin dari :  Telaah Kritis atas Injil Barnabas, Bambang Noorsena, Terbitan : Andi, Yogyakarta

2 responses to this post.

  1. Posted by yesus on November 1, 2010 at 3:32 pm

    oowgh…saya selaku yesus ( tuhan kalian ) baru tahu juga hal ini…..oia tapi aku mo nanya satu hal ini….kalo kalian nyembah aku ..aku nyembah siapa…trus yang sebelum aku juga nyembah siapa…..
    ah..aku bingung….!! tapi menurut aku kalian jangan sampai bingung juga karena aku bingung..tapi bingung lah dengan apa yang membuat kalian bingung…ah sudah lah aku bingung lagi nih jadinya…..

    hmm.mmbaru kali ini tuhan bingung..

    Balas

  2. Posted by lufias on Agustus 23, 2013 at 6:47 am

    yg bikin blok kaum kafirin….jdi para akhwan jangan terprofokasi dengan judul blog ” kebenaran islam” mari kita doakan mereka agar mendapat hidayah ALLAH utk berbalik mencintai islam……..amiiin

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 124 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: