BAGAIMANA MENDAPAT KEPASTIAN?

Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu bahwa kamu memiliki hidup yang kekal (1 Yohanes 5:13)

Setiap minggu saya menerima banyak surat-surat dari orang-orang yang mengatakan bahwa mereka punya kebimbangan dan ketidaktentuan kehidupan Kristen. Banyak diantara surat-surat itu yang datang dari orang-orang yang benar-benar Kristen, yang rupa-rupanya tidak memiliki sukacita ataupun kepastian iman Kristen, sebab mereka tidak memahami kebenaran pokok dari pengalaman Kristen.

Sekarang mari kita pakai pasal ini untuk mengadakan ringkasan dari pengalaman-pengalaman kita. Kita sudah melihat apa artinya bertobat, mempunyai iman dan dilahirkan kembali. Sekarang, bagaimanakah saya bisa pasti bahwa semua itu telah terjadi atas diri saya? Banyak orang yang telah berbicara dengan saya sudah bertobat, sudah percaya dan sudah dilahirkan kembali, tapi sering mereka tidak punya kepastian tentang perpalingan mereka kepada Tuhan. Sekarang marilah kita lihat kembali beberapa hal yang telah kita bahas sebelumnya. Pertama-tama, menjadi Kristen mungkin suatu pengalaman krisis dalam hidup saudara, atau suatu proses yang terjadi lambat laun, dan mencapai suatu titik puncak yang mungkin saudara sadari atau mungkin tidak.

Jangan saudara salah mengerti maksud saya. Saudara tidak menjadi Kristen sebagai hasil dari proses pendidikan. Beberapa tahun yang lalu seorang pendeta terkenal berkata, “Kita harus mendidik dan melatih orang-orang muda kita dalam cara hidup Kristen, supaya mereka tidak ingat saat dimana mereka bukan orang Kristen.” Filsafat pendidikan agama sebagin besarnya didasarkan kepada pendapat ini, dan barangkali banyak orang yang tidak pernah menemukan dan mengerti inti pengalaman Kristen karena pendidikan agama sudah menggantikannya.

Pada permulaan abad ini, Profesor Starbuck, seorang pemikir yang terkemuka di bidang psikologi, telah menyelidiki dan mendapat kesimpulan bahwa biasanya orang-orang yang aktif dalam pekerjaan-pekerjaan Kristen adalah orang-orang yang sudah mengalami pertobatan yang sungguh-sungguh. Ia juga sudah menyelidiki bahwa orang-orang yang memahami arti pertobatan secara jelas dan mendalam adalah orang-orang yang berasal dari desa atau kota kecil, dimana mereka pada masa kecilnya hanya sedikit atau sama sekali tidak mendapat pendidikan agama yang direncanakan dengan teliti.

Ini bukanlah suatu kritik terhadap pendidikan agama, tapi dianggap sebagai kritik terhadap penggunaan yang tidak wajar dari pendidikan agama sebagai pengganti dari pengalaman kelahiran baru.

Kepada salah seorang dari orang-orang yang paling beragama pada zamannya, Yesus berkata, “Jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Tuhan” (Yohanes 3:3). Nikodemus tak dapat menggantikan pengetahuan agamanya yang mendalam dengan kelahiran rohani yang baru, dan sampai pada generasi kita sekarang belum ada orang yang telah berhasil melakukannya.

Seekor ulat yang kelihatan jelek tinggal lama sekali dalam kepompongnya, dimana ia mengalami pertumbuhan dan perubahan yang hampir tak kelihatan. Biar bagaimanapun lambat pertumbuhannya, akan tiba waktunya ia melewati suatu krisis dan keluar sebagai kupu-kupu yang bagus. Waktu yang dia pakai berminggu-minggu lamanya untuk bertumbuh secara diam-diam adalah penting, tapi pertumbuhan yang lama ini tak dapat menggantikan titik kritis, dimana yang lama dan jelek itu ditinggalkan dan yang baru dan bagus muncul.

Memang benar bahwa banyak sekali orang Kristen yang tak tahu tepat jam dan harinya mereka mengenal Kristus. Tapi iman dan hidupnya membuktikan bahwa sadar atau tidak mereka sudah berpaling kepada Kristus. Mereka sadar atau tidak, ada satu saat dimana mereka melewati garis antara hidup dan mati.

Barangkali setiap orang kadang-kadang mempunyai keragu-raguan ataupun ketidakpastian dalam pengalaman agamanya. Waktu Musa naik ke bukit Sinai untuk menerima loh-loh hukum Taurat dari tangan Tuhan, untukbeberapa waktu lamanya ia tidak kelihatan oleh orang Israel, yang menunggu-nunggu kedatangannya kembali dengan cemas. Akhirnya mereka  penuh keragu-raguan dan berkata seorang kepada yang lain, “Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir – kami tidak tahu, apa yang telah terjadi dengan dia” (Keluaran 32:23). Kemurtadan mereka adalah hasil dari keragu-raguan dan rasa tidak pasti mereka.

Ketidakpastian yang mengejar-ngejar jiwa banyak orang ini timbul dari salah mengerti tentang apa sebenarnya pengalaman agama yang benar. Banyak orang rupanya tidak mengerti hakekat pengalaman Kristen, dan ada juga yang lain yang mendapat keterangan-keterangan yang salah lalu mencari sesuatu yang menurut Alkitab tak patut kita harapkan.

Dalam Perjanjian Baru perkataan iman lebih dari tiga ratus kali disebut dalam hubungannya dengan keselamatan dan lebih sering lagi dari situ iman disebut sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keselamatan. Penulis surat kepada orang Ibrani berkata, “Sebab barangsiapa berpaling kepada Tuhan, ia harus percaya bahwa Tuhan ada, dan bahwa Tuhan memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia” (Ibrani 11:6). Sekali lagi dalam ayat itu juga dikatakan bahwa “tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Tuhan”

Sebab orang mengacaukan iman dan perasaan, banyak orang yang mendapat kesulitan dan merasa tidak pasti, hal-hal yang sangat banyak kedapatan di antara orang-orang yang mengaku Kristen pada masa ini.

Iman selalu mempunyai obyek – artinya, bila kita percaya, kita mempercayai sesuatu. Sesuatu itulah yang saya sebut fakta. Kalau begitu baiklah saya beri tiga perkataan, tiga perkataan yang harus tetap dibiarkan dalam urutannya, jangan diubah-ubah. Baiklah saudara saya beri ketiga perkataan ini, yang akan menunjukkan jalan keluar bagi saudara dari ketidakpastian kepada hidup kekristenan yang penuh kepastian. Ketiga perkataan itu ialah fakta, iman dan perasaan. Urutannya harus begitu dan ini penting. Kalau saudara mengacaukan urutannya, atau mencoret salah satu perkataan ataupun menambahnya dengan suatu perkataan lain, maka saudara akan tiba pada lautan keputusasaan yang tidak punya jalan keluar dan saudara akan terus meraba-raba dalam kegelapan, tanpa sukacita dan kepastian dari orang yang dapat berkata, “Aku tahu kepada siapa aku percaya” (2 Timotius 1:12).

Ketika saudara memang diselamatkan dari dosa, saudara diselamatkan karena iman pribadi kepada Injil Kristus seperti yang ditentukan dalam Alkitab. Walaupun mula-mulanya saudara merasa iman itu dogmatis dan sempit, toh tidak ada jalan lain. Alkitab berkata, “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,  bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;” (1 Korintus 15:3-4). Alkitab berkata bahwa kita selamat jika iman kita berada dalam fakta obyektif ini. pekerjaan Yesus Kristus adalah suatu fakta, salibNya adalah suatu fakta, kuburanNya adalah suatu fakta, kebangkitanNya adalah suatu fakta.

Tidak mungkin orang mempercayai sesuatu supaya sesuatu itu menjadi ada. Berita Injil tidak menjadi ada sebab manusia mempercayainya. Kuburan itu tidak menjadi kosong pada hari pertama Paskah karena beberapa orang yang setia percaya bahwa kuburan itu kosong. Fakta selalu mendahului kepercayaan. Secara psikologis, manusia tak dapat percaya kalau tak ada obyek kepercayaannya.

Alkitab tidak memanggil orang untuk percaya kepada sesuatu yang tidak dapat dipercayai, tapi untuk percaya kepada fakta sejarah yang sebenarnya mengatasi segala sejarah. Alkitab, memanggil saudara untuk percaya bahwa pekerjaan Kristus, yang dilakukan untuk dosa-dosa dan orang-orang berdosa, berlaku bagi orang-orang yang mau menyerahkan jiwanya kepadaNya. Mempercayai Dia untuk kehidupan yang kekal adalah mempercayai fakta.

Iman adalah perkataan kedua dari urutan ketiga perkataan itu. Secara rasional iman tidak mungkin ada kalau tidak ada yang harus dipercayai. Iman harus punya obyek. Obyek dari iman Kristen ialah Kristus. Arti iman lebih luas daripada persetujuan dengan akal terhadap tuntutan-tuntutan Kristus. Iman erat hubungannya dengan kehendak. Iman adalah soal kehendak. Iman memerlukan suatu tindakan. Kalau kita sungguh-sungguh percaya, kita akan hidup. Iman tanpa perbuatan adalah iman yang mati. Sesungguhnya iman berarti penyerahan diri dan melibatkan diri kepada tuntatan-tuntutan Kristus. Juga berarti mengakui dosa dan berbalik kepada Kristus. Kita tidak mengenal Kristus dengan panca indera kita, tapi kita mengenalNya dengan indera keenam yang diberi Tuhan kepada setiap orang, yakni kesanggupan untuk percaya.

Perasaaan adalah perkataan terakhir dari ketiga perkataan itu, dan perkataan ini harus tetap sebagai perkataan yang terakhir dalam pikiran saudara. Saya yakin bahwa banyak dari kegelisaan dan rasa tidak pasti timbul karena orang-orang yang sungguh-sungguh dan jujur untuk mencari keselamatan, sudah lebih dulu punya pendapat bahwa sebelum mengalami pertobatan mereka harus lebih dulu berada dalam suatu keadaan emosional yang tertentu.

Orang-orang yang mencari keselamatan sebagaimana diberikan oleh Alkitab tentu ingin mengetahui pengalaman yang bagaimana yang harus diharapkan. Saya berbicara kepada orang-orang yang sudah sering pergi ke mezbah, atau ke ruang konsultasi di gereja atau barangkali sudah berlutut dekat pesawat radio atau televisi waktu diajak untuk menerima Kristus melalui acara-acara di radio atau televisi itu. Saudara sudah mendengar berita itu, saudara sudah tahu bahwa saudara seorang berdoa yang memerlukan Juruselamat. Saudara sudah menyadari bahwa hidup saudara secara rohani sudah kandas, saudara sudah mencoba setiap rencana buatan manusia untuk memperbaiki dan memperbaharui diri sendiri, tapi semuanya gagal. Dalam keadaan saudara sesat dan putus asa itu, saudara melihat kepada Kristus untuk mendapat keselamatan. Saudara percaya bahwa Ia dapat dan mau menyelamatkan saudara. Saudara sudah sering membaca panggilanNya kepada orang-orang berdosa, “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). Saudara sudah membaca janji yang mengatakan, “Barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan Ku buang” (Yohanes 6:37), saudara juga sudah membaca bahwa Ia berkata, “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepadaKu dan minum!” (Yohanes 7:37).

Waktu saya membaca Perjanjian Baru dengan teliti untuk melihat pengalaman yang bagaimana yang dapat saudara harapkan, saya mendapati Perjanjian Baru hanya memberi satu. Hanya ada satu pengalaman yang dapat saudara cari – hanya satu perasaan yang dapat saudara harapkan – yaitu pengalaman iman. Percaya adalah pengalaman yang yang sama nyatanya dengan setiap pengalaman lain, walaupun begitu banyak orang yang mencari sesuatu yang lebih dari itu – sesuatu sensasi dramatis yang membuat tubuh gemetar, dan banyak pula orang lain yang mencari pernyataan-pernyataan atau penglihatan-penglihatan spektakuler. Banyak orang yang mencari sensasi-sensasi semacam itu, padahal Alkitab berkata bahwa manusia “dibenarkan Karena iman” dan bukan karena perasaan. Orang selamat karena percaya kepada pekerjaan yang telah selesai yang dilakukan oleh Kristus di kayu salib, bukan selamat karena kegirangan yang dapat dirasakan oleh tubuh ataupun suatu ekstase keagamaan.

Tapi mungkin saudara berkata kepada saya: “Bagaimana tentang perasaan? Tidak adakah tempat bagi perasaan dalam iman yang menyelamatkan?” tentu saja ada tempat bagi perasaan dalam iman yang menyelamatkan, tapi kita tidak diselamatkan oleh perasaan itu. Perasaan apapun yang ada dalam hubungan ini, itu hanyalah hasil dari iman yang menyelamatkan, tapi bukan perasaan ini yang mengerjakan penyelamatan itu!

Kalau saya mengerti kasih Kristus kepada saya sebagai orang berdosa, maka saya menyambutnya dengan mengasihi Kristus – dan kasih ini mempunyai perasaan. Tapi kasih kepada Kristus adalah kasih yang tidak ada hubungannya dengan cinta manusia yang disertai oleh hawa nafsu. Kasih kepada Kristus adalah kasih yang ebbas dari segala ke-akuan. Alkitab berkata, “Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” (1 Yohanes 4:18). Dan orang-orang yang mengasihi Kristus mempunyai kepercayaan seperti itu kepada Kristus, yang membuat mereka tidak kenal takut.

Apabila saya mengerti bahwa Kristus dalam kematianNya telah mendapat kemenangan yang menentukan atas maut dan dosa, maka saya tidak takut lagi akan maut. Alkitab berkata, “Maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut” (Ibrani 2:14-15). Tetapi ini adalah juga perasaan. Rasa takut adalah semacam perasaan dan mengatasi rasa takut dengan  berani dan penuh kepercayaan di hadapan maut itu sendiri adalah perasaan dan pengalaman. Sekali lagi saya berkata, bukan perasaan berani dan penuh kepercayaan itu yang menyelamatkan kita, tapi iman kitalah yang menyelamatkan kita. Sedangkan keberanian dan kepercayaam penuh itu adalah hasil dari iman kita kepada Kristus.

Mempunyai perasaan bersalah dalam hati-nurani adalah pengalaman. Ahli-ahli ilmu jiwa mungkin menamakannya kompleks bersalah dan mungkin memberi keterangan panjang lebar bahwa perasaan bersalah itu tidak apa-apa dengan memperhadapkannya dengan hukum-hukum Tuhan, takkan ada keterangan-keterangan yang dapat membuat hati nurani itu menjadi tenang. Banyak penjahat yang menyerahkan diri kepada yang berwajib sebab penderitaan karena tuduhan hati-nurani yang bersalah lebih berat daripada penderitaan dalam penjara.

Alkitab mengajarkan bahwa Kristus membasuh hati-nurani. Alkitab berkata,

Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diriNya sendiri kepada Tuhan sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati-nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Tuhan yang hidup?” (Ibrani 9:13-14).

Mempunyai hati nurani yang disucikan dan bebas dari tuduhan-tuduhannya yang terus menerus adalah suatu pengalaman, tapi bukan penyucian hati nurani itu yang menyelamatkan saudara. Iman kepada Yesus Kristuslah yang menyelamatkan saudara, dan hati nurani yang disucikan adalah hasil dari adanya hubungan yang benar dengan Tuhan.

Sukacita adalah perasaan. Damai dalam hati adalah perasaan. Menaruh kasih kepada orang lain adalah perasaan. Merasa susah karena orang-orang yang belum percaya adalah perasaan.

Akhirnya, ada orang yang barangkali bertanya, “Saya percaya kepada fakta-fakta sejarah dari berita Injil, tapi saya masih belum selamat.” Barangkali memang begitu, sebab iman yang menyelamatkan punya satu ciri khas – iman yang menyelamatkan adalah iman yang menghasilkan kepatuhan, itu adalah iman yang menghasilkan suatu cara hidup. Ada orang-orang yang sangat berhasil meniru cara hidup ini untuk beberapa waktu, tapi bagi orang-orang yang mempercayai Kristus untuk keselamatannya, iman menumbuhkan dalam diri mereka keinginan untuk hidup sesuai dengan pengalaman iman mereka. Itulah kekautan yang menyebabkan orang itu punya hidup yang suci dan penuh penyerahan kepada Tuhan.

Biarkanlah iman secara akal itu, yakni iman yang percaya kepada fakta-fakta sejarah, yang mungkin saudara miliki sekarang, menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Kristus, benar-benar mengingini keselamatan daripadaNya, maka atas kuasa Firman Tuhan saudara menjadi anak Tuhan, “Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Tuhan, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya” (Yohanes 1:12).

One response to this post.

  1. Maaf dibagian mana yah informasi profil pemilik/pembuat blog ini ? Kok saya cari2 tdk ada.
    Ini jelas menunjukkan bahwa pemiliknya memang penakut dan tidak bertanggung jawab atas apa yang diposting di blog ini.
    Ini menjadi bahan perenungan bagi kita semua.

    Terimakasih…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: