Manakah Yang Menyelamatkan: Iman Atau Amal Ibadah Anda?

Orang-orang Muslim sering berbangga hati mendapati bahwa Islam dengan tegas menyatakan keselamatan itu hanya mungkin dicapai lewat perbuatan-perbuatan amal-ibadah. Dan ini dianggap superior terhadap ajaran Kristen yang “tidak tegas” menempatkan keselamatan itu sebagai buah iman ataukah buah perbuatan (amal ibadah).

Mereka mempertentangkan 2 ayat berikut (tanpa konteks) yang dianggap saling berkontradiksi:

“Manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat” (Roma 3:28).

“Manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman” (Yakobus 2:24).

Apa kata-kata kita?

Pertama-tama, pendapat para Muslim seperti di atas perlu diluruskan terlebih dahulu. Sekalipun benar agama Islam mengandalkan usaha-usaha amal-ibadah agar seorang Muslim bisa masuk ke surga, namun tidaklah benar bahwa dengan amal-ibadah itu pelaku-pelakunya dipastikan Tuhan akan masuk ke surga. Tuhan orang-orang Islam memegang otoritas yang tidak bisa diganggu gugat siapapun dan apapun untuk menetapkan siapa-siapa yang ingin dituntunNya dan siapa-siapa yang ingin disesatkanNya. Dan ini berbeda amat jauh dengan Tuhan orang-orang Kristen yang selalu terpanggil untuk mengasihi dan menuntun setiap manusia untuk diselamatkan. Dan hanya orang-orang yang menolak beriman kepada Tuhan itulah yang akan menyesatkan dirinya sendiri, dan bukan disesatkan oleh Tuhan yang Maha Kasih itu.

Akibatnya jelas, bahwa “konsep amal-ibadah” tidak akan menjamin siapapun untuk masuk dalam keselamatan. Sebaliknya Kristianitas mempunyai “konsep iman” yang justru memastikan setiap orang yang percaya mendapatkan keselamatannya. Dalam dua bab terakhir ini anda akan diajak untuk memahami betapa indahnya “konsep iman” ini seperti yang dianugerahkan oleh Yesus Kristus kepada anda dan saya.

Kedua, dan kini kita memasuki anggapan kontradiksi diantara ke dua ayat di atas. Disini pengkritik-pengkritik sering lupa bahwa Tuhan menyambut iman yang sejati dan perbuatan yang baik seperti 2 sisi membentuk satu mata uang, karena Ia sendiri berkata: “orang beriman tidak berhenti menghasilkan buah” (Yeremia 17:7-8). Mereka bahkan tidak memperhatikan makna yang persis dalam ayat 24 itu sendiri: “Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya an bukan hanya karena iman”. Perkataan “hanya” disini telah mengindikasikan bahwa sidang pembaca Suratnya Yakobus itu telah terlalu “santai” untuk berkarya karena telah puas menemukan keselamatan dalam imannya. (dan itulah yang berkali-kali diingatkan oleh Yakobus kepada mereka yang “puas diri” itu). Tetapi pada waktu yang sama kata “bukan hanya” juga memberi bobot tentang pentingnya iman yang mendahuluinya, sehingga secara utuh manusia memang dibenarkan karena perbuatan-perbuatan yang didasarkan atas iman.

Sebaliknya Paulus ingin sidang pembaca Suratnya untuk menyadari bahwa berlomba-lomba untuk memenuhi hukum, dengan perbuatan-perbuatan yang baik tanpa cacat sekalipun, tidaklah akan mendatangkan keselamatan kalau tidak didasari pada iman kepada Kristus Yesus. Karena keselamatan tidak pernah berasal dari manusia amal pahala, dan lain-lain, melainkan dari kasih karunia Tuhan bagi mereka yang beriman.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman…itu bukan hasil pekerjaanmu; jangan (sampai) ada orang yang memegahkan diri” (Efesus 2:8,9)

Dan berbicara jujur, perasaan memegahkan diri karena perbuatan-perbuatan diri ini memang sangat mudah dirangsang oleh setan tanpa disadari manusianya sendiri! Sedemikian sehingga diam-diam menusia meng-ilahi-kan dirinya karena merasa bahwa perbuatan-perbuatannya itulah yang membuat dirinya selamat karena kini ia dibersihkan dari dosa-dosa. Padahal hanya ada satu sumber yang dapat membersihkan dan mengampuni dosa, yaitu Tuhan, yang kita imani!

Tetapi dimanapun, Paulus sendiri tidaklah pernah menyepelekan perbuatan-perbuatan yang baik. Ia selalu mengajarkan moral, sikap dan pengetrapannya dalam perilaku, bahkan bukan hanya perilaku, melainkan sumber perilaku. Dan dalam hal ini, kembali Yakobus memahami hal yang sama dengan Paulus.

Maka ia berkata: “…dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku” (Yakobus 2:8). Disini tampak bahwa Yakobus juga membedakan antara perbuatan kebaikan-kebaikan dengan sumber kebaikan-kebaikan itu sendiri, yaitu iman.

Ini mengingatkan kita kepada kemiripannya dengan isu cinta di kalangan pria-wanita. Wanita hanya bisa membenarkan cinta pria tatkala pria menunjukkan sikap dan perbuatan-perbuatan cinta. Tetapi bagi sang pria itu sendiri, perasaan cinta benar ada dalam dirinya (bukan kosong) terlepas dari apakah ia melakukan perbuatan-perbuatan cinta atau tidak. Baginya cinta adalah komitmen-mental, bukan perbuatan-perbuatan, walau perbuatan-perbuatan itu adalah langkah logis untuk menyalurkan dan menunjukkan keberadaan cintanya.

Perbedaan antara kebaikan dan sumber kebaikan ini banyak ditegaskan oleh Yesus sendiri:
“Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan” (Matius 9:13)

Dan ini tak lain adalah pembedaanNya antara kebaikan-kebaikan perbuatan (dalam bentuk persembahan) dibandingkan dengan sumber kebaikan-kebaikan yaitu belas kasihan yang mendasari persembahan tersebut.

Yesus juga memperingatkan bahwa perbuatan-perbuatan buruk tidak hanya harus dikecam dari perbuatannya, melainkan mulai dari sumbernya, yaitu pikiran dan niatnya untuk berhawa nafsu:

“Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Matius 5:27).

Jadi apa yang terjadi di bagian hulu dari perbuatan, itulah yang menentukan kebenaran dari perbuatannya. Sebaliknya “kebenaran” di bagian hilir bisa merupakan hasil proses kosmetik dan rekayasa panggung yang berbeda sama sekali dengan keberadaan imannya. Itulah yang dimaksudkan Yesus ketika Ia mencela hal-hal yang dianggap tanpa cela oleh “orang-orang saleh”:

“Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Matius 5:20).

Jadi beda orientasi – bukan materi – dengan Yakobus, maka Paulus mempersoalkan keselamatan yang sejati (pembenaran Tuhan) dihasilkan oleh iman yang sejati kepada Tuhan, dan tidak lahiriahnya. Sebab tidak ada seorang manusiapun yang dibenarkan Tuhan karena mempercayakan dirinya sendiri untuk melakukan usaha-usaha pembenaran, melainkan seharusnya mempercayakan Tuhan yang merupakan sumber kebenaran dan pembenaran itu sendiri.

Tatkala Paulus menulis: “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak” (Roma 3:10), dan Yakobus menulis: “Barang siapa menuruti seluruh hukum itu tetapi mengabaikan satu bagian daripadanya, ia bersalah terhadap seluruhnya”, maka sesungguhnya keduanya sependapat bahwa tidak ada satu orangpun yang cukup benar berhadapan dengan Tuhan yang Maha Suci untuk mendapatkan keselamatan lewat perbuatan-perbuatannya.

Buah Keselamatan
Tatkala kita menerima kasih anugerah keselamatanNya yang begitu berharga, maka kita akan hidup bersyukur di dalam Dia, mengasihi Dia, menuruti kehendak-kehendakNya, dan melakukan perbuatan-perbuatan yang diperintahkanNya. Namun hal ini bukan karena mau mencari pengakuan, menuntut upah atau keselamatan tetapi tergugah hati tersungkur diri dalam keharuan untuk mensyukuri kasih Tuhan yang telah membebaskan kita dari kebinasaan. Dengan perkataan lain, Tuhan menghendaki perbuatan-perbuatan yang baik sebagai BUAH keselamatan – bukan untuk memperoleh keselamatan.

Maka disinilah titik pertemuan antara Paulus dan Yakobus, bahwa iman anda yang sejati selalu menuntun anda kepada perbuatan-perbuatan baik, dan apabila anda tidak melakukan perbuatan-perbuatan baik, maka pastilah anda tidak beriman yang sebenarnya, karena orang beriman tidak berhenti menghasilkan buah! (Yeremia 17:7-8).

Begitu anda beriman kepada Tuhan Yesus, anda mendapat kepastian keselamatan. Namun iman tidak berjalan di tempat, melainkan bertumbuh. Itu bukanlah akhir dari kehidupan Kristiani, melainkan awal dari hidup baru kita untuk mengisi amanat dan kemuliaanNya dengan buah-buah roh. Tidak seorangpun dibenarkan oleh iman bilamana imannya tidak membuat hidupnya benar!

One response to this post.

  1. Posted by الملك|ᴮᴵᴬᴺᴳᴷᴬᴸᴬ|كالا on September 1, 2017 at 1:56 pm

    Dαri Abu Hurαirαh rα, sαw bersαbdα: Ilαh kitα TURUN berkeliαrαn ke duniα SETIAP ϻαɭαϻ. (HR.Bukhαri,6940)
    Ketika ilah islam Turun ke dunia di Malam Hari

    Qs 86:2. Tαhukαh kαmu αpα yαng DATANG PADA ϻαɭαϻ hαri ituʔ
    Dαri Jαbir bin Abdullαh rα, sαw bersαbdα: Syαitαn berkeliαrαn SETIAP ϻαɭαϻ. (HR.Muslim,3756)

    pertαnyααn pengen tαhu:
    ①. Siαng hαri ilαh elu berαdα dimαnα slim…ʔʔ
    ②. Mαlem sααt turun ke duniα…αrsynyα kosong dunk…ʔʔ

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: