PERAWAN MARIA, SEBUAH TANDA DARI ALLAH (AYATOLLAH SEJATI)

Siapapun yang membaca Qur’an dengan seksama, akan menemukan ayat-ayatnya yang unik dan ekspresi-ekspresi yang menyenangkan mengenai Kristus dan ibu-Nya:

“Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh) nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam” (Sura al-Anbiya 21:91).

وَالَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهَا مِنْ رُوحِنَا وَجَعَلْنَاهَا وَابْنَهَا آيَةً لِلْعَالَمِينَ

Dalam daftar nabi-nabi perjanjian Lama, perawan Maria tampil sebagai klimaks penutup. (Sura 21:50-91). Ia adalah pribadi yang penting, karena ia mendengar dan menerima wahyu Allah. Sebagai tambahan, roh Allah masuk ke dalam dirinya, sehingga Kristus dilahirkan darinya. Itulah mengapa Qur’an menyebutnya “sebuah tanda dari Allah”, bukan hanya bagi semua manusia di dalam dunia ini, tapi juga bagi malaikat-malaikat dan roh-roh jahat di alam lain. Roh Allah menjadi manusia di dalam dirinya! Oleh karena itu Putranya mempunyai otoritas untuk mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang, menyembuhkan orang sakit, mengampuni orang-orang yang mau bertobat dari dosa-dosanya dan mengurapi orang yang dibenarkan dengan roh Allah. Kristus dilahirkan dengan tidak mempunyai dosa, dari Roh Kudus, ke dalam dunia kita yang rusak. Maria adalah lubang jarum yang melaluinya Allah mengutus Kristus. Itulah sebabnya mengapa Sura 19 disebut sebagai “Sura Maryam”.

Sangatlah menakjubkan melihat bahwa Maria adalah satu-satunya wanita yang namanya muncul dalam Qur’an. Ibu dari Muhammad atau nama istri-istrinya tidak ditulis di dalam Qur’an. Wanita-wanita lain yang disebutkan dalam Qur’an hanya dihubungkan dengan para suami mereka – seperti istri ‘Imran dan istri Firaun. Kerabat, Putra dan cara hidup Perawan Maria pantas untuk diselidiki dengan seksama.

Keluarga Maria menurut Qur’an

Kita membaca mengenai ayahnya ‘Imran, yang dipilih dan diseleksi Allah bersama Adam, Nuh dan Abraham dari antara umatnya dan bahwa ia akan mendapatkan hak istimewa untuk diberikan kepada keturunannya dan itu adalah kepada Maria dan Putranya.

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (keturunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Sura al-Imran 3:33-34).

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Menurut Qur’an, istri ‘Imran mengharapkan seorang bayi laki-laki dan mempersembahkan janin yang ada dalam rahimnya itu sebagai persembahan kepada Allah, sebelum ia dilahirkan. Namun, ketika ia melahirkan seorang bayi perempuan, ia menyesal dan menamainya Maryam, yang berarti “yang pahit”, karena ia mengetahui bahwa seorang perempuan, menurut Qur’an, hanya bernilai separuh dari nilai laki-laki (Sura 2:282 dan 4:11). Namun di balik kehinaan ini, ia melahirkan seorang bayi perempuan dan keturunannya ada dalam perlindungan Yang Maha Kuasa, agar ia dan Putranya dilindungi dari semua pengaruh jahat si Setan.

“(Ingatlah), ketika istri Imran berkata: ‘Ya Tuhanku sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitulmakdis). Karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk”. (Sura al-Imran 3:35-36).

إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Penduduk desa dimana Maria tinggal, kemudian memanggilnya anak perempuan ‘Imran (Sura 66:12) dan saudara perempuan Harun (Sura 19:28). Spesifikasi ini dapat menolong kita untuk menentukan relasinya dengan anggota-anggota keluarganya di dalam Taurat. Dalam kitab Bilangan kita membaca bahwa nama ayahnya adalah Amram, ibunya adalah Yokhebed, dan saudara-saudaranya adalah Harun dan Musa.

58 Inilah kaum-kaum Lewi: kaum orang Libni, kaum orang Hebron, kaum orang Mahli, kaum orang Musi dan kaum orang Korah. Adapun Kehat beranakkan Amram.  59 Dan nama isteri Amram ialah Yokhebed, anak perempuan Lewi, yang dilahirkan bagi Lewi di Mesir; dan bagi Amram perempuan itu melahirkan Harun dan Musa dan Miryam, saudara mereka yang perempuan. (Bilangan 26:58-59).

Dalam Taurat kita membaca mengenai 3 peristiwa penting dalam hidup Maryam, putri ‘Imran:

1.       Seorang laki-laki dari keluarga Lewi kawin dengan seorang perempuan Lewi;  2 lalu mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga bulan lamanya.  3 Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, sebab itu diambilnya sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil;  4 kakaknya perempuan berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat, apakah yang akan terjadi dengan dia.  5 Maka datanglah puteri Firaun untuk mandi di sungai Nil, sedang dayang-dayangnya berjalan-jalan di tepi sungai Nil, lalu terlihatlah olehnya peti yang di tengah-tengah teberau itu, maka disuruhnya hambanya perempuan untuk mengambilnya.  6 Ketika dibukanya, dilihatnya bayi itu, dan tampaklah anak itu menangis, sehingga belas kasihanlah ia kepadanya dan berkata: “Tentulah ini bayi orang Ibrani.”  7 Lalu bertanyalah kakak anak itu kepada puteri Firaun: “Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan puteri?”  8 Sahut puteri Firaun kepadanya: “Baiklah.” Lalu pergilah gadis itu memanggil ibu bayi itu.  9 Maka berkatalah puteri Firaun kepada ibu itu: “Bawalah bayi ini dan susukanlah dia bagiku, maka aku akan memberi upah kepadamu.” Kemudian perempuan itu mengambil bayi itu dan menyusuinya.  10 Ketika anak itu telah besar, dibawanyalah kepada puteri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya, dan menamainya Musa, sebab katanya: “Karena aku telah menariknya dari air.” (Kel.2:1-10). Puteri Firaun itu kemudian mengadopsi anak itu dan membesarkannya. Maka ia menjadi anggota keluarga Firaun dimana ia menerima pendidikan yang terbaik di lembah Nil (Lih.juga Sura 28:11-13).

2.       Miriam dan semua anak Yakub diselamatkan oleh Tuhan dari tentara Firaun. Air dari salah-satu cabang Laut Merah dihalau oleh badai yang keras dan para pengungsi itu pun menyeberangi laut Merah itu dan berjalan di tanah yang kering. Namun, keseluruhan tentara Firaun tenggelam ketika laut yang terbelah itu menyatu kembali. Setelah pembebasan yang menakjubkan ini, Musa mulai memuji Tuhan di hadapan umat-Nya. Juga, Miriam mengambil rebana dan menyanyi memuji Tuhan Juruselamat mereka. Maka Miriam adalah imam dari semua wanita dalam doa (Kel.15:20-21).

3.       Miriam dan Harun menentang Musa dan dengan terang-terangan tidak setuju dengannya ketika Musa menikahi seorang wanita Etiopia berkulit hitam. Musa mungkin berpikir bahwa ia dapat memerintah suku-suku itu tanpa memihak. Tuhan menghukum Miriam sehingga ia menderita penyakit lepra. Tetapi Musa mendoakan saudarinya yang memberoontak ini dan ia disembuhkan setelah 7 hari menjalani pertobatan dan pengasingan di padang belantara (Bil.12:1-15).

Siapakah Zakharia? Ayah angkat Maria?

Dalam Qur’an, kita membaca bahwa Allah berkenan kepada Maria, karena ia setia berdoa. Zakharia, ayah angkatnya, bertanggung-jawab atasnya:

“Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: ‘Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab: ‘Makanan itu dari sisi Allah’. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab”. (Sura 3:37).

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Berdasarkan hal ini dan ayat-ayat Qur’an lainnya jelaslah bahwa disini Muhammad berbicara mengenai Maria yang lain, yaitu ibu dari Kristus. Maria (Miriam), saudari Harun, mulanya tinggal di Mesir, kemudian ia mengungsi dengan umatnya ke padang gurun dan ia meninggal disana 1350 tahun sebelum Kristus (Bil.20:21). Maria yang pertama berasal dari suku Lewi, suku yang menjalankan peran imam di Israel; Maria Ibu Kristus, hidup 1400 tahun kemudian pada masa Zakharia melayani sebagai imam yang diangkat untuk Bait Suci di Yerusalem pada masa kekuasaan Roma. Maria yang kedua ini juga berasal dari suku Lewi, karena Elisabet istri Zakharia, adalah keturunan Harun (yang sama seperti Musa yang berasal dari suku Lewi, Kel.6:16-20) dan Maria, ibu Kristus adalah kerabat dari Elisabet. (Luk.1:5 dan 36). Oleh karena itu, Maria yang kedua ini yakni Ibu Kristus, tidak keluar dari Mesir dengan Musa, seperti yang dilakukan oleh saudara perempuan Harun, dan ia tidak berjalan bersama umatnya di padang gurun Sinai. Ia hidup 100 km di Utara Yerusalem yaitu di Nazaret, sebuah kota di Galilea. Kedua Maria ini dijadikan satu orang dalam wahyu Muhammad.

Walau telah lanjut usia, Zakharia menjadi ayah bagi Yohanes, yaitu Yohanes Pembaptis, yang mempersiapkan jalan bagi Putra Maria. Ketika Yohanes ini yang adalah putra Zakharia, menghadap Raja Herodes dan menegur dosa perzinahannya dengan keras, nabi yang berseru-seru di padang belantara ini dipenjarakan atas perintah raja dan kemudian dipenggal. (Sura 3:38-41; 19:3-15; Luk.1:5-80 dll).

Kejutan dalam hidup Perawan Maria

Berdasarkan Qur’an, malaikat-malaikat Allah muncul dan berbicara kepada Maria yang sedang berdoa dan memberikannya sebuah wahyu surgawi:

“Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk”. (Sura 3:42-43).

وَإِذْ قَالَتِ الْمَلائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَى نِسَاءِ الْعَالَمِينَ

يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ

Dalam ayat ini, Muhammad menyaksikan secara eksplisit bahwa Maria adalah wanita yang terbaik di dunia ini dan di akhirat. Ia adalah “wanita yang unik” yang menjadi teladan dan imam bagi semua wanita Muslim. Menurut Qur’an, ia sendiri bukanlah orang suci, namun Allah menyucikannya dengan memanggil dan memilihnya.

Malaikat Jibril (dan malaikat-malaikat lainnya) dalam Qur’an, seketika menampakkan diri kepada Maria dan menyampaikan padanya ayat yang luar-biasa ini:

“Hai Maryam sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat yang datang dari pada-Nya, nama-Nya Al-Masih, Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)”. (Sura 3:45).

إِذْ قَالَتِ الْمَلائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ

Maria menjadi takut setelah menerima wahyu ini dan meminta perlindungan pada Yang Maha Pemurah dari utusan yang asing ini (Sura 19:19). Tetapi malaikat itu tetap melanjutkan panggilannya dan memberikan konfirmasi padanya bahwa ia dutus secara spesial untuk memberikan padanya seorang anak laki-laki yang paling suci. Maria menolak janji ini dan mengakui bahwa ia belum disentuh oleh seorang pria pun;

“Maryam berkata: ‘Bagaimana akan ada bagiku seorang laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku, dan aku bukan (pula) seorang pezina!” (Sura 19:20).

قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا

Orang yang mencermati percakapan antara Jibril dan Maria dalam Qur’an akan menemukan prinsip yang sangat mengejutkan:

  • Perawan Maria berbicara secara langsung pada Jibril, utusan Allah, dan Jibril menjawabnya; oleh karena itu, dalam Qur’an ia dipandang sebagai seorang nabiah, karena telah menerima wahyu dari Allah Maha Kuasa. Lebih jauh lagi, Allah telah menaruh perkataan-Nya sendiri ke dalam mulutnya dan menjadikannya sebagai tanda bagi semua makluk hidup.
  • Allah sendiri telah mengirimkan kabar baik-Nya kepada Maria bahwa Kristus akan dilahirkannya. Siapa yang berani menghentikan Allah bersabda atau menurunkan wahyu-Nya? Wahyu-Nya tidak diberikan dalam bentuk ancaman, atau sebuah peringatan atau sebuah ketetapan, tapi dalam bentuk kabar baik kelahiran “Kalimat Allah” yang berinkarnasi dalam Kristus.
  • Perawan Maria tidak dapat secara langsung mengakui rahasia pernyataan ini. Ia menolak klaim yang menyatakan bahwa ia akan melahirkan seorang anak. Maria bersaksi bahwa ia masih perawan murni, tidak pernah disentuh pria, juga tidak pernah diperkosa. Baik Qur’an maupun Injil bersama-sama menegaskan keperawanan Maria, ibu Kristus.
  • Malaikat dalam Injil menjelaskan padanya, “bagi Tuhan tidak ada yang mustahil” (Luk.1:37). Menurut Qur’an, Allah sendiri menghembuskan ke dalam dirinya sehingga ia dapat melahirkan seorang anak laki-laki yang tidak berdosa dan sangat murni (Sura 4:171; 19:19; 21:91; 66:12).

Nama dan gelar Kristus seperti yang disampaikan kepada Maria

Nama pertama Kristus yang muncul dalam ayat Qur’an diatas (Sura 3:45) adalah “Kalimat Allah”. Putra Maria bukanlah seorang nabi biasa seperti nabi-nabi lainnya, karena Ia tidak dilahirkan dari bapa biologis. Ia dilahirkan dari Kalimat/perkataan Allah; Dialah inkarnasi Perkataan Allah dan “roh yang berjalan” dari Allah dalam bentuk seorang manusia (Sura 4:171). Beberapa sarjana meragukan fakta ini. Namun, baik Qur’an maupun Injil sepakat bahwa Perkataan dan Roh Allah menjadi daging dalam Putra Maria. Dialah perkataan Allah yang berjalan dan Roh Allah yang dapat terlihat. Dalam Dia berdiam kepenuhan otoritas Perkataan Allah: kuasa-Nya dalam menciptakan, kemurahan penyembuhan-Nya, otoritas-Nya untuk mengampuni dosa, kemurahan-Nya untuk menghiburkan yang menderita, kemampuan-Nya untuk memperbaharui yang rusak, dan hak-Nya untuk menghakimi semua orang berdosa.

Kristus menghidupi apa yang dikatakan-Nya. Tidak ada perbedaan antara perkataan-Nya dengan perbuatan-Nya. Ia dilahirkan tidak berdosa dan tetap murni tanpa dosa. Kehendak Allah nyata di dalam diri-Nya. Orang yang mengingat perkataan-Nya dan merenungkan tanda-tanda ajaib-Nya dapat mengalami kuasa Sang Pencipta Yang Kudus.

Kristus – Yang Diurapi

Gelar kedua Putra Maria dalam berita Jibril adalah Kristus, Yang Diurapi dengan Roh Allah dan kuasa-Nya. Dalam Perjanjian Lama, para raja, para imam dan nabi diurapi dengan minyak sukacita sebagai tanda eksternal bahwa mereka menerima kuasa Roh Kudus untuk melakukan tugas mereka. Gelar Kristus secara harafiah berarti: Dia yang diurapi dengan Roh Kudus, karena Putra Maria bersaksi mengenai diri-Nya sendiri di Nazaret:

“Roh YAHWEH ada pada-Ku, karena Dia telah mengurapi Aku, untuk menginjil kepada orang-orang miskin, Dia telah mengutus Aku, untuk menyembuhkan orang-orang yang hancur hati, untuk mengkhotbahkan pembebasan bagi para tawanan, dan pemulihan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk mengutus dalam kebebasan orang-orang yang tertindas. Untuk mengkhotbahkan tahun perkenan YAHWEH” (Luk.4:18-19).

Kristus menyentuh dengan Roh Kudus-Nya, orang-orang yang menyadari dan mengakui dosa dan kejahatan mereka, dan percaya pada kematian-Nya untuk menggantikan mereka. Ia memberikan orang-orang berdosa yang bertobat hak istimewa untuk meminta-Nya memberi pengurapan spiritual ini, karena Kristus datang untuk memperbaharui orang-orang berdosa yang tersesat. Ia mampu menguduskan mereka jika mereka percaya pada-Nya. Kemudian Ia menaruh hidup-Nya sendiri di dalam mereka dan menopang mereka dengan kuasa ilahi untuk melakukan pelayanan.

‘Isa atau Yesus?

Dalam Qur’an, nama Putra Maria adalah ‘Isa. Beberapa sarjana menyatakan bahwa format nama ini berasal dari pengucapan Syria dari kata bahasa Aram untuk Yesus. Namun demikian, dalam Injil, malaikat Gabriel memerintahkan Yusuf, ayah angkat-Nya, untuk menamakan bayi yang baru lahir itu “YESUS, karena Dia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka” (Mat.1:21). Nama yang unik ini muncul 975 kali dalam Perjanjian baru. Dalam diri Putra Maria, Allah mempersiapkan suatu pemurnian sempurna bagi semua orang dari semua dosa mereka dan pelepasan dari murka Tuhan pada Hari Penghakiman. ‘Isa dilahirkan untuk mati sebagai substitusi semua manusia, sehingga penebusan ini akan membenarkan barangsiapa yang percaya pada-Nya. Substitusi bagi orang-orang berdosa adalah misteri yang terdapat dalam nama Yesus. Untuk alasan inilah dia dilahirkan. Tuhan menguduskan dengan cuma-cuma barangsiapa yang menerima karya penebusan Kristus, yang telah disiapkan untuk semua orang. Dalam nama Yesus kita menemukan rencana Tuhan yang besar untuk membenarkan dan memperbaharui dunia. Nama yang unik ini juga mencakup kuasa untuk melaksanakan rencana ini dengan semua detilnya.

Putra Maria

Gelar Kristus yang ke-empat dalam  ayat ini adalah “Putra Maria” yang dalam kenyataannya adalah nama yang mendatangkan malu. Nama ayah-Nya tidak diketahui; oleh karena itu, Ia selalu disebut sebagai anak ibu-Nya. Qur’an membenarkan Perawan Maria beberapa kali dan bersaksi bahwa kelahiran Putranya disempurnakan dengan kepuasan dan kesukaan Allah, seperti yang disaksikan Kristus dalam Qur’an:

“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (Sura 19:33).

وَالسَّلامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

Ada damai ilahi atas Maria dan Putranya sejak kelahiran-Nya hingga kebangkitan-Nya. Sebagai tambahan, Qur’an bersaksi dua kali bahwa tidak seorang pria pun pernah menyentuh Maria, ia pun tidak pernah tidak murni. Namun, Allah menghembuskan ke dalam dirinya Roh Kudus-Nya, karena ia telah menjaga keperawanannya. Kristus tidak mempunyai bapa biologis, namun Tuhan Yang Kudus menaruh perkataan-Nya dan Roh-Nya ke dalam Perawan Maria.

Berdasarkan fakta ini kita juga berhak menyebut Putra Maria sebagai Putra oleh Roh Allah, atau “Putra Spiritual Allah”, dengan mengingat bahwa tidak ada persetubuhan yang telah terjadi. Persetubuhan fisik apapun tetaplah tidak mungkin terjadi. Oleh karena terminologi ini sulit diterima oleh orang-orang Semitis, Qur’an menyebut-Nya “Putra Maria”. Namun demikian Roh Kudus telah memelihara hidup-Nya, kematian dan kebangkitan-Nya dalam damai Allah. Putra Maria juga ingin memperlengkapi dan berbagi dengan kita, hak-Nya sebagai Putra Spiritual, dan menguduskan kita agar kita diadopsi oleh Allah, jika kita membuka jiwa kita kepada Roh dari kasih kudus-Nya.

Ia sangat terkemuka dalam dunia ini dan di akhirat

Sebagai tambahan untuk ke-empat karakteristik yang telah disebutkan diatas, Qur’an menggelari Kristus “pribadi yang sangat terkemuka di dunia ini dan di akhirat”. Sebanyak 2,1 milyar orang Kristen dan 1,3 milyar orang Muslim di seluruh dunia menghormati Dia yang dilahirkan oleh Roh Allah. Kerendahan hati-Nya, kasih, kemurnian dan kelembutan-Nya telah menarik hati dan memberi kesan banyak orang yang mencari kebenaran. Namun, kita hanya dapat mengakui karakter-Nya yang mulia hingga pada tahap kita diubahkan menurut teladan-Nya. Taurat menyebut Dia yang dilahirkan dari Roh Tuhan sebagai Hamba YAHWEH, karena Ia mendamaikan kita dengan Yang Maha Suci dan menegakkan damai kekal dengan Tuhan.

Dalam Injil-Nya Yesus mengajarkan kita:

Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Mat.23:12).

Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”. (Mat.20:28).

Malaikat-malaikat di surga memuji Putra Maria untuk karya penebusan-Nya. Ia mendamaikan dunia dengan Yang Maha Suci dan membuka lebar bagi kita pintu kepada Tuhan, Bapa spiritual kita. Tak seorangpun dapat masuk ke dalam damai ilahi dengan kekuatannya sendiri. Ini hanya dapat terjadi melalui Putra Maria, pribadi yang sangat dihormati di dunia ini dan di akhirat.

Dia-lah yang dibawa mendekat kepada Allah

Yang Maha Kuasa membangkitkan Putra Maria kepada diri-Nya sendiri oleh karena kebaikan, kemurahan, kesabaran dan penebusan-Nya bagi banyak orang. Qur’an bersaksi dua kali mengenai kenyataan bahwa Kristus hidup dan Ia tinggal dengan Allah! (Sura 3:55 dan 4:158). Kematian tidak dapat menguasai-Nya, karena Ia hidup tanpa dosa dan mengalahkan musuh kehidupan. Putra Maria membawa hidup kekal dalam diri-Nya dan memberikan Roh-Nya kepada orang yang mau percaya pada-Nya.

Menurut Qur’an, Allah berbicara secara pribadi kepada Kristus dan langsung menjawab-Nya (Sura 5:110-118). Putra Maria adalah satu-satunya pendoa syafaat, Sang Pengantara dan Penebus bagi semua pengikut-Nya di hadapan Allah. Ia tidak akan pernah mati. Ia hidup selamanya, karena Ia adalah Firman Allah dan Roh-Nya. Ia kembali ke tempat asal-Nya. Kristus mendekat pada para pengikut-Nya yang setia dan mengubah kesombongan mereka menjadi kerendahan hati dan keegoisan mereka menjadi sikap mau melayani orang yang berkekurangan. Ia akan membawa mereka mendekat kepada Allah. Apakah anda mau mengikuti-Nya ataukah menentang-Nya?

Nyanyian pujian Maria

Menurut Injil, setelah malaikat Gabriel menjelaskan kepada Maria rahasia kelahiran Putranya, dan menyatakan keunikan nama-Nya, gelar dan atribut-Nya, Maria pun sepakat dalam ketaatan imannya, pada rencana penebusan Tuhan (Luk.2:34-38).

Kemudian sang Perawan bergegas melakukan perjalanan ke rumah imam Zakharia dan Elisabet istrinya, yang walau usianya telah lanjut, juga hamil oleh perkenan Tuhan. Disana, Maria memuji dan mengagungkan YAHWEH dengan nyanyiannya yang sangat terkenal yang sering diucapkan jutaan orang dalam doa-doa mereka. Kata-kata nyanyian pujian ini menandakan perenungannya yang mendalam akan Kitab Suci. Ia mengakui esensi YAHWEH, Tuhan yang memiliki ikatan perjanjian dan semua jalan-Nya yang adil terhadap umat-Nya, maka ia memuji-Nya dan bernyanyi:

“Dan Maria berkata, ‘Jiwaku mengagungkan YAHWEH, dan rohku bersukaria karena Elohim Juruselamatku,48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,  49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.  50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.  51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;  52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;  53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;  54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,  55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” (Luk.1:46-55).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: