RAMADHAN: BULAN PENUH KEMUNAFIKAN

SELAMAT TINGGAL RAMADHAN: BULAN PENUH KEMUNAFIKAN

oleh Kareem Amer

Pada February 22, 2007, blogger Mesir Abdel Kareem Nabil Suleiman, yang lebih dikenal dengan nick Internetnya Kareem Amer, dihukum empat tahun penjara karena mengkritik Islam dan Presiden Mesir Husni Mubarak dalam blog pribadinya.

Artikel dibawah ini adalah terjemahan dari sebuah entry yang dia publikasikan setelah Ramadhan tahun 2006. Diterjemahkan kedalam bahasa inggris oleh Baal dan sukarelawan Faithfreedom lainnya.

Untuk pertama kalinya sejak berumur lima tahun, saya menemukan keberanian yang cukup dalam diri utk menolak puasa dibulan Ramadhan tahun ini. Meski segala macam kesulitan menimpa, halangan dan tantangan yang menggoda selama pengimplementasian keputusan ini.

Hal ini mengembalikan kebebasan diri saya, yang dicerabut ketika saya masih memaksakan diri tunduk dan melakukan praktek-praktek dan tindakan-tindakan dengan pendirian yang tidak kuat, hanya karena bantuan mereka yang ada disekeliling sayalah, saya bisa.

Saya muncul dari semua pengalaman sukses ini dengan pandangan baru mengenai masyarakat pamer dimana saya tinggal, dimana tiap individu ditakdirkan untuk memamerkan ukuran kemunafikan kepada masyarakat sekitar agar dia mendapat persetujuan dari orang sekitarnya, meski jika apa yang ada didalam diri dia sebenarnya sama sekali berbeda dari yang kelihatan diluarnya.

Beberapa tahun lalu, seorang anggota parlemen Mesir muncul dengan sebuah rancangan undang-undang yang mengkriminalkan mereka yang terang-terangan makan disiang hari bulan Ramadhan; Sebuah hukum yang mengirim pesan jelas kepada mereka yang tidak puasa agar menjadi orang munafik dengan meyakinkan masyarakat sekitar mereka bahwa mereka juga puasa.

Meski terdapat fakta bahwa ritual puasa harusnya menjadi masalah pribadai antara orang tsb dengan Tuhannya. Tapi, apa yang terjadi selama islamisasi masyarakat kita menyebabkan puasa diubah dari tindakan penyembahan pribadi orang percaya yang ingin melakukan puasa tsb menjadi sebuah kebiasaan yang harus ditunjukkan keluar agar tidak mempengaruhi perasaan mereka yang puasa; seakan mereka yang tidak puasa harus menahan diri dari makanan dan minuman dihadapan orang yang puasa demi menolong menekan hasrat mereka utk makan minum sampai waktu buka!

Meski rancangan tsb hingga kini belum jadi undang-undang, tapi hukum semacam itu sebenarnya sudah diterapkan dlm satu dan lain cara dijalanan mesir, sebagai bagian dari gaya hidup ramadhan. Kita lihat kafe-kafe dan restoran-restoran menutup pintu sampai waktu buka puasa. Makanan Fast food, juice, minuman dilarang dijual selama puasa dengan alasan tiap orang harusnya puasa, dan orang yang tidak puasa harus menjauh dari pandangan publik, sembunyi dibawah tanah seakan dia kena penyakit menular.

Bulan Puasa diubah menjadi Lelang Umum Kemunafikan. Tiap orang berlomba-lomba membuktikan bahwa mereka lebih munafik dari orang lain dengan banyak cara. Sangat alami utk menemukan banyak yang tidak bisa melakukan puasa dengan berbagai alasan baik kesehatan dll, dan dengan begitu mereka makan, atau kau temukan mereka tidak puasa karena mereka tidak merasa yakin akan puasa itu sendiri, atau karena mereka intinya tidak percaya akan islam, atau karena mereka bukan muslim. Meski demikian, orang-orang tetap saja memandang mereka dengan dengki, memaksa mereka pura-pura puasa demi menghindari pandangan hina masyarakat kearah siapa saja yang mengabaikan kebiasaan ini dan bertentangan dengan mayoritas kebanyakan orang.

Jika kebetulan orang itu secara terbuka tidak puasa, maka jangan tanya lagi bagaimana semua hinaan yang dia terima, baik langsung maupun lewat pandangan orang-orang sekitarnya yang memandang dengan pandangan berapi-api dan sangar. Pandangan ini membuat orang yang tidak puasa merasa jadi diserang, dan seakan orang yang memandang berharap bisa berubah menjadi belati yang lalu menusuk dia hingga mati.

Ketika saya kecil, masih di SD, teman sekelas saya suka mengejek orang yang tidak puasa dengan lagu berikut:

Ya faater Ramadan, ya khaaser deenak!
Sikkeenat al-jazzaar, tiqta’ masaareenak!
[O non-fasting in Ramadan, O loser of your faith!
(May) the knife of the butcher, Cut your innards!]

[Oh orang yg tidak puasa dibulan Ramadan, Oh pecundang iman! (semoga) pisau jagal, Memotong organ-organmu!]

Itulah cara kami dididik, sebagai anak-anak dengan lagu kejam ini yang berharap organ kelamin orang tidak puasa dipotong-potong. Ini menunjukkan satu kesatuan dengan pandangan yang diterima orang tidak puasa dari masyarakat sekitar.

Jum’at kemarin, saya ada di Kairo bersama teman. Sesaat sebelum waktu buka, kami merasa lapar jadi kami putuskan makan ditempat yang pertama kita temukan dalam perjalanan. Kelihatannya kami bernasib sial karena kami berada tepat ada didepan cabang Kentucky Fried Chicken ditengah kota. Kami beli dan beranjak ke meja makan kami. Tidak terpikir oleh kami bahwa waktu buka puasa belum lagi tiba. Saya terkejut ketika melihat ruang makan ternyata sudah penuh oleh keluarga-keluarga yang sedang bersiap-siap utk makan menunggu waktu buka. Kami duduk ditengah-tengah kerumunan orang dan cuek saja makan. Yang terjadi berikutnya tidak akan saya lupakan, semua orang berpaling kearah kami, kami jadi tontonan, dengan semua orang memandang kami kesulitan utk mengunyah dan menelan, tiap telanan serasa menelan batu dengan semua orang menghantui kami.

Di malam Idul Fitri, saya kirim beberapa surat pada teman mengucapkan selamat, “Kullu ‘aamin wa antum bikhair.” [“May you be well every year.”] Saya juga bicara ke teman non muslim, dan saya mulai memberi selamat pada mereka juga. Dia (wanita) terkejut dan berkata bahwa dia bukan muslim, tapi saya jelaskan posisi saya dengan berkata bahwa saya memberi selamat dengan berakhirnya bulan penuh kemunafikan bukan utk hal lainnya.

Kepada setiap manusia yang harus memamerkan ke tiap orang wajah yang berbeda dari wajah aslinya tiap bulan Ramadhan…
Kepada tiap orang yang menderita karena pandangan publik, dan komentar-komentar pedas dan menghina mereka, karena tidak mengikuti mereka berlaku munafik…
Kepada setiap manusia yang menghargai dirinya sendiri dan murtad dari Islam…

“SEMOGA SELAMAT DAN SEHAT-SEHAT SAJA SEPANJANG TAHUN”

Sumber:
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=18529
http://www.faithfreedom.org/index.php?name=News&file=article&sid=1551

6 responses to this post.

  1. Posted by azar on Agustus 23, 2010 at 7:56 am

    Sulit, memandang bulan puasa seperti ini,…..setahu saya dari kacamata awam puasa itu bulan dimana dimaksudkan agar orang muslim mau belajar mengekang diri dari hawa nafsunya dan tidak menjadi budaknya dan diharapkan setelah ramadhan selesai perilakunya menjadi lebih baik dan kalau bisa sifatnya berubah total sebagaimana tujuan puasa itu sendiri untuk mensucikan jiwa.

    memandang puasa dengan mengacu perilaku orang lain itu tanpa memahami maksud puasa yang benar yang muncul adalah memandang puasa dengan caranya sendiri, nauzubillah minzalik, anda seperti 3 orang buta melihat gajah, atau seperti orang buta menggendong orang lumpuh menjadi petunjuk jalan. Semoga dipahami.

    Balas

    • RASANYA TIDAK SABAR MULUT SAYA INI NTUK MENGHUJAT PARA NASRANI…INGIN SAYA MEMPEROLOK MEREKa DENGAN CACIAN ATAS KEBODOHANNYA…

      Balas

      • Andalah yg pantas diperolok dan dicaci…karena kebodohan anda, sayangnya anda cuma hidup di islam tetapi tdk bisa menghidupkan islam melalui diri anda,belajarlah islam sebenarnya jauhi yg tdk diajarkan oleh islam.

    • Tentu nya anda yg kurang bijaksana menyikapi akan hakikat berpuasa. Coba tunjukkan padaku satu ayat al quran yg melarang makan dan minum dalam puasa. Awal ibadah kepada Tuhan adalah Niat….sdh faham kah anda apa itu niat…???? Mana yg dikatakan niat..yg kau ucapkan itu bacaan niat….tak kan sah satu amal ibadah jika tdk diawali niat…mana niat….?

      Balas

  2. SIAPAPUN YG MENGHUJAT MUSLIM ADALAH NERAKA TEMPATMU…DISINI KALIAN BISA TERTAWA SEKARANG TETAPI DI NERAKA KALIAN TAK AKAN TERAMPUNI…MAHA BENAR SIKSA TUHANKU ALLAH PADA PENGHUJAT MUSLIM…ALLAH AKBAR

    Balas

  3. Posted by pangasji on Mei 15, 2012 at 3:39 am

    Ya sebenarnya yang dimaksud di atas adalah rasa toleransi umat beragama,, anda sebagai penulisnya seharusnya lebih bijak untuk tidak menyudutkan atau membuat persepsi yang sengaja menjelekan pihak tertentu.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: