Kasus Cikeusik: Din Syamsuddin Kecewa Pelaku Dihukum Ringan

KOMPAS.com – Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin kecewa dengan keputusan Pengadilan Negeri Serang, Banten, terhadap 12 terdakwa kasus Cikeusik yang dihukum kurang dari setahun penjara. Ia menilai, vonis tersebut mengusik rasa keadilan di dalam hatinya.

Pelaku tindak kekerasan atas nama apapun, tapi kalau hukumannya sangat ringan, cuma hitungan bulan, kemudian dipotong masa tahanan, itu mengusik rasa keadilan dalam diri saya,” kata Din kepada wartawan di Jakarta, Jumat (29/7/2011).

Din menyesalkan, saat ini sering kali setiap terjadi kekerasan atas nama agama, yang selalu disalahkan adalah lembaga dan organisasi masyarakat (ormas) agama. Padahal, menurut Din, kekerasan tersebut bisa saja terjadi karena segelintir oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Kami menghormati proses peradilan, tapi kalau pelakunya hanya dihukum ringan, hanya bulanan, tentu sangat mengusik rasa keadilan saya. Itu kalau mereka benar-benar yang melakukan kekerasan,” katanya.

Seperti diberitakan, majelis hakim PN Serang, Kamis (28/7/2011), menjatuhkan vonis tiga bulan hingga enam bulan potong masa tahanan bagi 12 terdakwa kasus Cikeusik. Dengan putusan itu, masing-masing terdakwa yang sebelumnya sudah menjalani penahanan ini akan bebas dalam tiga hari hingga 15 hari ke depan. Vonis tersebut lebih ringan daripada tuntutan jaksa penuntut umum yang menuntut 12 terdakwa tersebut dengan pidana penjara bervariasi, yaitu lima bulan hingga tujuh bulan potong masa tahanan.

Hal-hal yang meringankan, menurut pertimbangan majelis hakim, antara lain para terdakwa belum pernah dihukum, tidak berbelit-belit di persidangan, dan mempunyai tanggungan keluarga.

Dalam putusannya, majelis hakim menyatakan, para terdakwa melanggar Kitab Undang-undang Hukum Pidana Pasal 170 (kekerasan), 160 (penghasutan), 351 (penganiayaan), dan 358 (sengaja turut serta dalam penyerangan yang mengakibatkan korban luka berat atau mati). Para terdakwa dinilai bertanggung jawab atas penyerangan terhadap jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten, pada 6 Februari 2011. Dalam peristiwa tersebut, tiga jemaah Ahmadiyah meninggal dan sejumlah lainnya terluka.

Terdakwa Cikeusik Dihukum Ringan

BuktidanSaksi.com, Liputan6.com: Dua belas terdakwa dalam kasus penyerangan dan pembunuhan tiga pengikut Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten, dijatuhi vonis dengan hukuman antara tiga sampai dengan enam bulan penjara.

Para terdakwa mendapat hukuman sangat ringan atas kejahatan mereka, termasuk untuk Dani bin Misra (17) tahun, yang dalam rekaman video yang beredar luas nampak memukul kepala salah satu korban dengan batu. Dani hanya dijatuhi hukuman tiga bulan kurungan.

Seperti dilansir BBC Indonesia, Kamis (28/7), hukuman ringan juga diterima Idris bin Mahdani, salah satu penggerak aksi massa ke rumah pengikut Ahmadiyah bulan Februari lalu, yang menurut majelis hakim terbukti memiliki senjata tajam dan dikenai hukuman penjara lima setengah bulan.

Vonis rendah ini sebelumnya sudah diperkirakan karena tuntutan tertinggi jaksa hanya tujuh bulan dalam sidang sebelumnya. Meski demikian putusan hakim ini tetap mengejutkan kelompok pegiat HAM dan politisi di Indonesia.

“Bagaimana seorang pelaku yang menghilangkan tiga nyawa orang lain dihukum begitu ringan Ini sama artinya dengan memberi sinyal toleransi atas tindak kekerasan,” protes Eva Sundari, anggota Fraksi PDI Perjuangan. Eva sempat mempertanyakan lemahnya tuntutan jaksa dalam kasus ini saat rapat kerja Komisi III DPR dengan Kejaksaan Agung pekan lalu, namun tak mendapat jawaban memuaskan.

Menurutnya selain Kejaksaan, kepolisian adalah simpul terlemah dalam penegakan hukum di Indonesia, terutama ketika menyangkut kasus intoleransi antarumat bergama. “Saya akan membuat legal opinion untuk kasus ini, mendorong agar kuasa hukum Ahmadiyah banding dan akan menggalang dukungan politisi DPR agar ada advokasi untuk perkara ini,” janji Eva.

Penyesalan juga diungkapkan organisasi HAM Human Rights Watch, yang menyebut vonis hakim sebagai “pesan menyeramkan” dunia peradilan Indonesia terhadap pencari keadilan kasus toleransi umat beragama.

“Saat video penyerangan Cikeusik dilihat publik, orang di seluruh dunia terkejut dan ngeri melihat kebiadaban penyerang yang menendang dan mengayunkan parang pada tiga orang sampai tewas,” kata Deputi Direktur Human Rights Watch untuk kawasan Asia, Phil Robertson.

“Bukannya pelaku dijatuhi dakwaan pembunuhan atau dakwaan berat lain, jaksa malah membikin dakwaan menggelikan dengan tuntutan super ringan. Sidang Cikeusik mengirim pesan mengerikan terhadap serangan pada kelompok minoritas seperti Ahmadiyah. Hari yang menyedihkan untuk keadilan di Indonesia,” ujarnya. (ADO)

2 responses to this post.

  1. Posted by dumbledore on Agustus 3, 2011 at 7:55 am

    aku ndak liat adanya keanehan, begitulah islam mengajar pada umatnya. mengapa kaget? kenalilah islam dari kuran-nya supaya lebih paham seperti apa wajah islam sejati.

    Balas

  2. Posted by dildaar80 on Agustus 9, 2011 at 8:30 am

    Din Syamsudin, saya setuju dengan anda kali ini.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: